ARTI PENGUBURAN ARI-ARI BAGI MASYARAKAT JAWA

INTERPRETASI MEDHEM ARI-ARI PADA MASYARAKAT JAWA
a. Saudara Muda 
Ari-ari bagi masyarakat Jawa memiliki makna yang sangat erat berhubungan dengan kehidupan bayi. Ari-ari dimaknai sebagai saudara muda dari bayi. Sehingga keluarga bayi merasa perlu untuk menjaga ari-ari sebaik mungkin seperti ketika menjaga bayi. Ari-ari bukanlah seonggok daging yang tidak berguna, bukan pula sampah yang menjijikkan yang harus segera dibuang jauh-jauh seperti yang dilakukan oleh masyarakat Barat. Ari-ari telah ikut menemani kehidupan bayi di dalam kandungan dan ikut merasakan pahit getirnya kehidupan di dalam kandungan.

Sebagian informan mengatakan bahwa penguburan ari-ari merupakan sesuatu yang wajib dilakukan karena jika tidak dilakukan penguburan maka bayi tidak bisa tenang. Perlakuan yang semena-mena terhadap ari-ari bisa menimbulkan sesuatu yang tidak baik pada bayi. Demikian pula sebaliknya perlakuan yang penuh kasih dan baik terhadap ari-ari akan membawa kebaikan pada perjalanan hidup sang bayi pada masa sekarang dan akan datang.

Sedemikian istimewanya posisi ari-ari terhadap bayi tidak mengherankan jika segala sesuatu yang menimpa bayi sering kali dihubungkan dengan kejadian yang menimpa atau dialami oleh ari-ari. Misalnya pada suatu malam bayi rewel maka sering dikaitkan dengan matinya lampu pada kuburan ari-ari. Keluarga bayi pun harus segera menghidupkan kembali lampu tersebut. Demikian pula ketika badan bayi terdapat semacam tanda/luka seperti terbakar, maka ada anggapan jika ari-ari yang dikuburkan sedang digigiti semut (suleten). Keluarga bayi pun secepatnya harus membongkar kuburan ari-ari dan membersihkannya.

Bukan itu saja, pada saat bayi mengalami sakit (panas) keluarga bayi tidak perlu memeriksakan bayi ke rumah sakit tetapi cukup menyiramkan air bersih ke atas kuburan ari-ari. Setelah disiram air maka kondisi bayi pun diyakini akan sehat kembali. Pada saat pindah rumah, ari-ari juga memiliki peranan yang besar dalam menjaga bayi agar kerasan di rumah barunya. Agar bayi tidak rewel dan kerasan di tempat barunya caranya sangat sederhana yaitu sebagian kecil tanah kuburan ari-ari dibawa dan ditanam di rumah yang akan ditempati.

Berbagai perlakukan yang baik terhadap ari-ari di atas sebenarnya merupakan pesan dari masyarakat Jawa agar berlaku baik dan hormat kepada saudara. Utamanya saudara yang lebih muda, yakni dengan kasih sayang secara tulus. Saudara yang diberi kasih sayang dengan tulus akan membalas dengan memberikan ketenangan kepada seseorang. Dan jika saudara diperlakukan semena-mena maka akibatnya juga tidak akan baik bagi seseorang.  

b. Bebedan 
Pada proses penguburan ari-ari, orang yang menguburkan ari-ari disarankan untuk bebedan, yaitu mengenakan kain jarik seperti seorang wanita. Secara harfiah bebed berarti kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. Pada umumnya pakaian ini hanya digunakan oleh laki-laki ketika mereka sedang melakukan peringatan-peringatan atau upacara-upacara khusus. Bebedan bagi laki-laki bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Apalagi para laki-laki hampir tidak pernah bebedan pada hari-hari biasa. Mengenakan kain atau bebedan ini sekaligus juga untuk menguji keubedan (ketekunan/keuletan) laki-laki dalam menghadapi berbagai rintangan. 

Ketika pada posisi bebedan maka seseorang akan mengalami berbagai keterbatasan, mulai dari bergerak, duduk, berjalan, apalagi tiduran. Dibutuhkan perjuangan tersendiri agar setiap kegiatannya berjalan dengan lancar. Hal tersebut menyiratkan bahwa bebedan bermakna manusia harus ubed, giat, rajin bekerja, berjuang dan selalu berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan. Dalam ungkapan Jawa tertera tumindak nggubed ing rina wengi (bekerja sepanjang hari). Jika manusia mampu mengatasi bebedan ini maka hasil yang dicapainya akan sangat memuaskan (http://www.tembi.org/tembi/lahir.htm). Nilai-nilai perjuangan, kerja keras, dan kehati-hatian dalam kehidupan inilah yang ingin ditanamkan keluarga kepada bayi yang ari-arinya akan dikubur. Orang mengenakan bebed ketika akan mengubur ari-ari sekaligus sebagai pengharapan agar bayi kelak meneladani sikap dan perilaku dari bebed ini. 

C. Kiri – Kanan: Keseimbangan 
Pemilihan tempat penguburan ari-ari pada masyarakat Jawa memiliki makna tersendiri. Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa untuk ari-ari yang keluar bersamaan dengan bayi wanita selalu diletakkan pada bagian kiri pintu utama rumah. Sedangkan untuk laki-laki selalu ditempatkan di bagian kanan pintu utama. Pemosisian kuburan tersebut merupakan sesuatu yang telah direncanakan dengan sangat matang. Sisi kiri bagi orang jawa berarti kiwa, jika dimaknai secara lebih luas adalah pekiwan, yang berarti sumur. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa salah satu tugas utama wanita adalah di sumur yaitu mencuci dan sebagainya. Hal ini dapat dimaknai bahwa kebersihan rumah tangga menjadi tanggung jawab wanita. 

Meski demikian laki-laki tidak boleh lepas tangan tentang hal ini. apakah hal ini kemudian merendahkan para perempuan? Menurut peneliti tidak. Pemosisian perempuan sebagai salah satu “penguasa” sumur justru memiliki makna pengangkatan derajat perempuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa sumur adalah air dan air adalah sumber kehidupan, maka menguasai sumur berarti menguasai air dan itu artinya menguasai sumber kehidupan keluarga yang bersangkutan. Sementara itu wanita adalah lambang Yoni, atau kesuburan. Jika antara sumber kehidupan dan kesuburan digabungkan maka yang dihasilkan adalah kemakmuran dan kesejahteraan. 

Kondisi kemakmuran/kesejahteraan tidak akan terjadi jika kiri diperuntukkan bagi laki-laki. Logikanya, laki-laki adalah disimbolkan sebagai Lingga. Lingga dimaknai sebagai simbol generatif, pencipta. Jika antara pencipta dan sumber kehidupan (Lingga dan air) disatukan maka tidak akan terjadi kolaborasi yang harmonis karena keduanya memiliki sifat yang sejenis. Pemosisian kiri dan kanan tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Pada saat sudah dewasa kedudukan ini akan terus dipertahankan. Misalnya ketika orang Jawa mengadakan pesta pernikahan, cara mendudukkan pinanganten pun mirip ketika menanam ari-ari. Wanita disandingkan di sisi kiri laki-laki. Hal yang perlu dijelaskan disini adalah bahwa pemosisian kira dan kanan bukanlah suatu pembedaan antara yang baik-tidak baik, rendah-tinggi, mulia-hina. Akan tetapi hal tersebut merupakan sebuah posisi keharmonisan/keseimbangan yang ingin dicapai oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa pada dasarnya merupakan masyarakat yang sangat menginginkan kondisi yang harmonis. 

d. Refleksi Keharmonisan 
Upacara mendhem ari-ari memiliki tujuan utama untuk memperoleh keseimbangan. Baik keseimbangan secara horizontal maupun vertikal. Keseimbangan horizontal dicerminkan adanya ketercapaian hubungan harmonis antara ari-ari dan bayi. Dimana keduanya dimaknai sebagai saudara kakak beradik. Bayi yang merupakan saudara tua harus selalu menyayangi dan memelihari ari-ari. Secara vertikal keharmonisan tercermin dengan adanya lampu penerang di atas kuburan ari-ari. Manusia mengharapkan dengan lampu itu diperoleh pepadhang (penerang) bagi manusia. 

Pepadhang ini berasal dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Untuk mendapatkan suasana yang harmonis dengan Tuhan, maka masyarakat Jawa kemudian menyertainya dengan acara brokohan. Acara brokohan merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan dan pengharapan manusia akan keberkahan. Brokohan berasal dari bahasa Arab “barokah” yang mengandung makna mengharapkan berkah. Brokohan ini merupakan salah satu semangat spiritual ketuhanan yang disimbolkan dengan berbagai benda (Saleh, 2010:67). 

Baik mendhem ari-ari maupun brokohan ini menunjukkan usaha orang Jawa untuk menjelaskan alam semesta, yaitu hubungan orang Jawa dengan tata alami dan supra alami, dengan sesama manusia dan dirinya sendiri (Anderson dalam Laksono: 2009:23) Adanya upacara brokohan ini sekaligus juga sebagai sarana penjagaan kestabilan (keharmonisan) dan proses dialog masyarakat Jawa (yang pada masa lampau masih penganut Hindu-Budha) dengan Islam yang dilakukan para Walisanga ketika melakukan penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Para wali tidak menginginkan masyarakat Jawa menjadi kacau karena masuknya agama Islam. Maka kemudian nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam diselipkan dalam berbagai ritual-ritual yang telah ada sebelumnya. Seperti diakui bahwa masyarakat Jawa adalah memiliki karakteristik pergaulan yang siombolik untuk memahami orang lain sehingga tidak terjadi ketersinggungan orang lain (Suratno dan Astiyanto : 2005:236). 

Referensi 
Artha, Arwan Tuti dan Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 2004, Jejak Masa Lalu, Sejuta Warisan Budaya, Kunci Ilmu, Yogyakarta. 
Geertz, Clifford, 1989, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Indria Ekowati, Venny (2008) TATA CARA DAN UPACARA SEPUTAR DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA DALAM SERAT TATACARA 
Laksono, PM, 2009, Tradisi Dalam Struktur Masyarakat Jawa Kerajaan dan Pedesaan, Kepel Press, Yogyakarta 
Magnis-Suseno, Franz, 1993, Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Gramedia Pustaka Utama Jakarta. 
Pals, Daniel L, 2001, Seven Theories of Religion, Penerbit Qalam, Yogyakarta 
Purwadi dan Fajri, Rahmat, 2005, Mistik dan Kosmologi Serat Centhini, Media Abadi, Yogyakarta. 
Saleh, Arman Yurisaldi, 2010, Rahasia Otak Manusia Jawa, Pinus Book Publisher, Yogyakarta Suhardi, 2011, Diktat kuliah Agama dan Dinamika Masyarakat (tidak diterbitkan) 
----------, 2009, Alam-Religi Solidaritas Sosial di Papua dan Jawa Terawang Antropologi, Kerjasama Scholarship for Intercultural Studies Program, PSAP UGM, Yogyakarta 
Suratno,Pardi dan Astiyanto, Henniy, 2005, Gusti Ora Sare 65 Mutiara Nilai Kearifan Budaya Jawa, Adiwacana, Yogyakarta. 
Yunus ahmad H., 1993, Arti dan Fungsi Upacara Tradisional Daur Hidup pada Masyarakat Betawi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. 

Pustaka Online: 
1. http://www.shalimow.com/etcetera/cara-memperlakukan-ari-ari-bayi-ada-mitos-apa-ya.html 
2. http://rizkidwicahyani.blogspot.com/search?q=jawa 
3. http://berdikaribus.wordpress.com/tag/upacara-menanam-ari-ari-plasenta-di-daerah-betawi/ 
4. http://www.tembi.org/tembi/lahir.htm 

Sumber dari: 
Surono, UPACARA MENDHEM ARI-ARI: SEBUAH HARAPAN MASYARAKAT JAWA UNTUK KEHARMONISAN, Program S2 Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2011

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

1 Response to "ARTI PENGUBURAN ARI-ARI BAGI MASYARAKAT JAWA"

  1. di rumah saya juga amsih seperti itu, unsur tradisi Jawa yang masih kental

    Jakarta || Banten ||Lombok

    ReplyDelete