LAPARASKOPI (OPERASI MELALUI LUBANG KUNCI)

Perkembangan yang pesat di bidang teknologi kesehatan khususnya ilmu bedah telah mendatangkan manfaat dan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Ditemukannya teknik bedah Laparoskopi atau bedah minimal invasive misalnya, kini telah mulai menggantikan teknik-teknik konvensional, kecuali pada kasus-kasus tertentu.

PERNGERTIAN
Laparoskopi adalah prosedur untuk melihat rongga perut melalui sebuah teleskop yang dimasukkan melalui dinding perut. Prosedur pembedahan pada laparoskopi menggunakan alat-alat yang juga dimasukkan melalui dinding perut. Melalui teleskop, prosedur pembedahan lebih jelas terlihat karena bisa dilakukan pemaparan yang lebih baik pada rongga panggul dan efek pembesaran dari teleskop.  

SEJARAH LAPAROSKOPI 
Sulit menyebutkan siapa penemu alat laparoskopi pertama kali. Pada tahun 1902, Georg Keling, di Dresden, Saxony melakukan tindakan laparoskopi pertama pada anjing. Tahun 1910, Hans Christian Jacobaeus di Swedia melaporkan operasi laparoskopi dilakukan pertama kalinya terhadap manusia. Dengan ditemukannya chip komputer pada kamera TV, innovasi laparoskop lebih berkembang lagi. Dengan adanya alat ini, dapat dilakukan pembesaran lapangan operasi yang terlihat di monitor. 

KEUNTUNGAN 
Laparoskopi, yang merupakan revolusi besar di bidang ilmu bedah, kini banyak dipilih karena prosedurnya yang mudah serta waktu operasi yang relatif singkat dan lama pemulihan pasca operasi yang lebih singkat ketimbang konvensional. Ukuran lubang yang diperlukan untuk operasi hanya kurang lebih 0,5-1,5 cm, jauh lebih kecil dibandingkan ukuran lubang untuk operasi konvensional. Karena alasan inilah maka operasi laparoskopi disebut juga bandaid surgery atau keyhole surgery

Operasi ini disebut juga minimal invasive, karena bagian tubuh dibuka dengan sedikit sayatan saja. Alhasil, kerusakan pada jaringan tubuh dan jumlah perdarahan pun dapat diminimalisir, pasien pun dapat pulih dengan lebih cepat. Di samping itu, nyeri pasca operasi, komplikasi terhadap peristaltik usus dan luka operasi (infeksi luka operasi atau terbukanya luka operasi) juga lebih rendah. Khusus mengenai pemulihan peristaltik usus, laparoskopi memungkinkan hal ini lebih cepat terjadi mengingat organ (usus) tidak perlu dikeluarkan dari perut atau pun dipegang dokter. 

Peristaltik usus lebih akrab ditandai dengan buang angin pasca operasi, dan ini merupakan salah satu tanda telah pulihnya fungsi alat pencernaan. Bila bising ususnya sudah positif, pasien boleh langsung minum. Oleh karena itu, rata-rata setelah dua hari pasca operasi laparoskopi, pasien boleh pulang. Perlengketan pasca operasi yang dapat menyebabkan nyeri berulang setelah operasi, sumbatan usus, dan infertilitas juga lebih jarang terjadi. Pasien yang sudah menjalani operasi besar apapun, kemungkinan mengalami pelengketan 20 hingga 40 persen. Hanya nanti manifesnya akan sangat tergantung kepada individu. 

Secara kosmetik / estetik, laparoskopi lebih unggul dibandingkan laparotomi. Bekas luka operasi relatif tidak terlihat karena kecilnya luka irisan yang dilakukan. Kemungkinan terjadinya keloid pada bekas operasi juga minimal. Transmisi mikroba amat minimal karena tidak ada kontak langsung antara organ tubuh pasien dan tangan operator. Akibatnya, kemungkinan infeksi pasca operasi dapat diminimalisir. 

KEGUNAAN LAPAROSKOPI 
Beberapa kegunaan laparoskopi secara umum dapat dibagi dalam dua kelompok yakni untuk mengetahui penyebab dari suatu penyakit (diagnosis) dan untuk mengatasi masalah tersebut (terapi). Sebagai alat diagnostik, laparoskopi seringkali digunakan untuk mendiagnosis penyebab dari ketidaksuburan (infertilitas), terutama untuk pasangan yang telah lama mencoba berbagai cara untuk mendapatkan anak. Penyebab infertilitas yang dapat diketahui oleh laparoskopi antara lain adalah gangguan pada saluran telur, yang bisa terjadi akibat proses perlekatan dengan daerah sekitar atau penekanan oleh tumor atau proses infeksi, adanya endometriosis (suatu penyakit yang erat kaitannya dengan infertilitas), adanya tumor kandungan atau tumor pada indung telur. 

Berbagai penyebab infertilitas yang dapat diatasi melalui laparoskopi antara lain adalah membebaskan saluran telur dari perlengketan atau penekanan oleh tumor, mematikan sarang-sarang endometriosis, atau mengangkat tumor kandungan/tumor pada indung telur. Selain itu, laparoskopi juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui dan mengatasi kehamilan di luar kandungan. Kehamilan di luar kandungan merupakan hal yang bila dibiarkan dapat membahayakan bagi penderita. Laparoskopi unggul dalam hal diagnostik karena dokter akan melihat secara langsung kelainan yang ada, di samping dapat melakukan berbagai tindakan untuk mengatasinya. 

Laparoskopi juga merupakan salah satu cara untuk melakukan tubektomi (seringkali dikenal sebagai penutupan kandungan), yakni bagi mereka yang telah merasa cukup memiliki anak. Pengangkatan miom / kista indung telur / kandungan sendiri juga dapat dilakukan melalui laparoskopi. Mioma ukuran besarpun dapat dioperasi dengan menggunakan moselator, suatu alat untuk mengikis tumor menjadi ukuran yang lebih kecil, sehingga tumor tersebut dapat dikeluarkan melalui lubang kecil yang dibuat. Laparoskopi, di tangan ahli, dapat melakukan berbagai tindakan yang dilakukan secara laparotomi. 

Sumber
dr. EDDY HARTONO, SpOG(K), LAPAROSKOPI: Operasi melalui lubang kunci, tersedia di http://med.unhas.ac.id/obgin/index.php?option=com_content&task=view&id=92&Itemid=62 a

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "LAPARASKOPI (OPERASI MELALUI LUBANG KUNCI)"

Post a Comment