PENINGKATAN ANGKA KEJADIAN SEKSIO SESARIA

Seksio sesaria adalah suatu tindakan operasi untuk melahirkan bayi dengan melakukan sayatan pada kulit perut dan membuka rahim ibunya untuk mengeluarkan sang bayi, hingga kini belum jelas dari mana asal kata seksio sesaria atau seksio sesar tersebut. Ada yang mengatakan istilah ini muncul karena Yulius Caesar sang Jenderal Romawi yang terkenal itu dilahirkan dengan cara operasi (membedah) perut ibunya, namun pendapat lain membantah hal ini karena pada zaman itu tindakan pembedahan untuk melahirkan bayi hanya dilakukan pada wanita hamil yang sudah hampir mati atau yang sudah mati, padahal waktu sang jenderal Romawi ini akan menyerbu dan menduduki daratan Inggris ia terlebih dahulu menghadap dan memohon doa restu dari ibunya berarti ibunya masih hidup.  

Tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya tindakan pembedahan ini mulai dilakukan namun hingga awal abad ke 20 tindakan ini hanya 2% dari seluruh cara persalinan, sampai pertengahan abad ke 20 atau sekitar tahun 1960 an angka ini hanya mengalami sedikit peningkatan menjadi 4,5%, secara perlahan namun pasti angka ini terus mengalami peningkatan. Di Amerika Serikat tindakan seksio sesaria pada tahun 1975 meningkat menjadi 10,4% dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 yaitu sebesar 24,7% atau mengalami peningkatan sekitar 1% per tahun, artinya dari setiap 4 wanita yang melahirkan akan ada 1 orang yang melaluinya dengan cara seksio sesaria. 

Kejadian ini tidak merata di seluruh dunia di Kanada angka seksio lebih rendah dari Amerika Serikat, di negara-negara Eropah Utara angka seksio hanya mengalami sedikit kenaikan. Belanda adalah negara dengan kejadian seksio sesaria yang terendah yakni hanya berkisar 6-7%, ini mungkin karena lebih dari 42% persalinan di negara tersebut ditangani oleh bidan. Di negara-negara yang sedang berkembangpun angka ini tidak sama, di Wadia Hospital, Bombay (India) angka kejadian seksio sekitar 10 % sementara di bagian lain dari negara ini angka seksio berkisar 18-20%. Brazil adalah contoh negara berkembang dengan peningkatan angka seksio sesaria yang paling mencengangkan dari 15% pada tahun 1974 menjadi 31% pada tahun 1980 bahkan di daerah Sao Paulo saat ini angka seksio diperkirakan berkisar 75%. 

Bagaimana di negara kita (Indonesia)?  
hingga saat ini mungkin belum ada data resmi namun trend kenaikan angka seksio yang terjadi di Indonesia saat ini juga sudah sampai pada tahap yang membuat pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan harus membuat surat edaran ke rumah-rumah sakit mengingatkan akan kecenderungan peningkatannya, tak kurang pula POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dalam berbagai kesempatan senantiasa mengingatkan para anggotanya untuk memperhatikan hal ini, berbagai instrumen audit di rancang untuk melakukan audit terhadap rumah sakit dan para dokter ahli kebidanan anggota POGI namun sepertinya belum membuahkan hasil yang memuaskan. 

Berbagai pertanyaan timbul apakah yang membuat angka seksio ini meningkat demikian pesatnya? 
Banyak variabel yang terlibat di dalamnya, seksio yang 30-40 tahun lalu hanya dilakukan pada kasus persalinan sulit seperti anak besar, disproporsi kepala panggul, plasenta previa, letak lintang sekarang indikasinya menjadi semakin lebar, saat ini seksio dilakukan pada kasus bekas seksio, gawat janin, letak sungsang, preeklampsia /eklampsia bahkan ada yang menambahkan dengan indikasi lain seperti ketuban pecah dini, letak sungsang (terutama pada kehamilan pertama), kehamilan lewat waktu, lilitan tali pusat, sampai indikasi karena pilihan dari si ibu sendiri (on request) yang tidak ingin merasakan sakit bersalin atau yang ingin "jalan lahirnya" masih tetap utuh. 

Kemajuan teknologi kedokteran baik di bidang obstetri dan ginekologi maupun anestesi (pembiusan) turut berperan dalam memperluas indikasi tersebut. Dengan alat ultrasonografi (USG) dapat mendeteksi adanya lilitan tali pusat atau air ketuban yang kurang (oligohidramnion) yang kemudian dijadikan indikasi untuk melakukan seksio, pemantauan persalinan dengan alat kardiotokografi juga menyumbangkan andil dalam diagnosis "gawat janin". 

Dengan makin baiknya tehnik pembiusan membuat operasi sesar bukanlah suatu hal yang menakutkan sehingga sang ibu masih dapat bercengkerama / berkomunikasi dengan para dokter dan paramedis sementara perutnya disayat oleh pisau bedah, si ibu masih dapat menyentuh bayinya dan memberi kecupan di pipi sang bayi mungil saat bayi tersebut telah dikeluarkan dari rahim ibunya bahkan ada pasangan suami istri yang mau menentukan tanggal dan jam kelahiran anaknya karena diyakini bahwa tanggal, hari dan jam tersebut mempunyai berkah bagi sang anak dan keluarga serta usahanya. 

Jadi apakah indikasi operasi seksio sesar semacam ini masih dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah ???  
Maraknya tuntutan hukum di negara-negara maju membuat sebagian besar dokter memilih untuk tidak mengambil risiko melahirkan bayi pervaginam pada kasus-kasus dengan penyulit seperti letak sungsang, kehamilan lewat waktu, gawat janin dan lebih memilih persalinan dengan seksio sesaria 

Pertanyaan baru yang timbul kemudian adalah : ”Apakah kenaikan angka seksio sesaria ini berjalan seiring dengan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi ??” 
Laporan statistik dari Women's Hospital di Madras India dapat membantu kita untuk menemukan jawaban bagi pertanyaan di atas. Pada tahun 1980 angka seksio di rumah sakit tersebut 10,7 % sedang angka kematian ibu dan perinatal masing-masing 390/100.000 kelahiran hidup dan 76,2 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 1992 saat angka kejadian seksio meningkat hampir 2 kali lipat menjadi 19,8% angka kematian ibu hanya sedikit menurun menjadi 362/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian perinatal menjadi 74,1/100.000 kelahiran hidup. 

Bagaimana dari segi pembiayaan ?? 
British National Health Service melaporkan untuk satu tindakan seksio akan meningkatkan biaya sebesar £1000 dari persalinan normal. Pendapat lain mensinyalir faktor insentif merupakan salah satu pertimbangan penting meningkatnya kejadian seksio ini, di banyak negara dilaporkan angka seksio di rumah sakit swasta jauh lebih tinggi dari rumah sakit pemerintah. Di California pada tahun 1994 dilaporkan kejadian seksio sesaria 29 % pada pasien yang mempunyai asuransi pribadi, dan hanya 16% pada pasien yang miskin. Di New York pada tahun 1984 dilaporkan angka seksio 3 kali lebih banyak pada daerah dengan pembayaran yang tinggi dibandingkan dengan yang pembayaran rendah. 

Upaya apa yang dapat dilakukan untuk menurunkan kejadian seksio sesaria ?. 
Beberapa pendapat yang perlu dipertimbangkan bila ingin menurunkan angka seksio sesaria adalah : 
  1. Edukasi yang berkesinambungan dari organisasi profesi dokter (IDI dan POGI) kepada para anggotanya dan juga kepada masyarakat. 
  2. Dilakukan audit medik secara berkala di setiap rumah sakit. 
  3. Pasien perlu diberi kesempatan untuk mencari "second opinion" dari dokter lain pada kasus seksio yang elektif (terencana) 
  4. Panduan dan rekomendasi dari organisasi profesi untuk melakukan observasi dan percobaan persalinan pervaginam bagi pasien yang pernah menjalani seksio sesaria pada persalinan sebelumnya (VBAC = vaginal birth after caesarian). 
  5. Perubahan atmosfir tuntutan hukum. 
  6. Insentif tambahan bagi persalinan pervaginam terutama pada kasus-kasus yang pernah menjalani seksio sesaria sebelumnya 

Sumber 
Efendi Lukas, PENINGKATAN ANGKA KEJADIAN SEKSIO SESARIA : SUATU FENOMENA DALAM BIDANG OBSTETRI, tersedia di: http://med.unhas.ac.id/obgin/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=62

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "PENINGKATAN ANGKA KEJADIAN SEKSIO SESARIA"

Post a Comment