LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KEBIDANAN PADA MASA LAMPAU

Pada awal-awal periode modern, kebidanan mulai berubah, dari profesi yang dilakukan perempuan beralih ke pekerjaan laki-laki. Pergeseran tersebut tidak berjalan mulus. Ini dimulai ketika Dr. Wertt of Hamburg berpakaian seperti perempuan untuk mengamati bidan dan belajar tentang proses persalinan. Ketika Dr. Wertt of Hamburg diketahui ternyata laki-laki, ia dibakar hidup-hidup.

Pertengahan abad ke-16, para ahli bedah yang didominasi laki-laki lebih solid di ruang bersalin. Mereka membantu persalinan dengan cara menarik bayi keluar dari rahim pada proses persalinan yang sulit. Faktor yang memberikan kontribusi dalam pergeseran peran gender adalah Louis XIV, yang menggunakan bidan laki-laki untuk melahirkan anak tidak sahnya dan sejak saat itu bidan laki-laki menjadi populer.

Ledakan penduduk yang cepat di eropa mendorong terjadinya perubahan sosial. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya ilmu pengetahuan tentang reproduksi dan anatomi di universitas-universitas, pertolongan persalinan dimedikalisasi dan menjadi domain laki-laki.

Ada tiga perbedaan yang dikenal antara bidan laki-laki dan perempuan. Pertama, laki-laki menguasai atas alat-alat medis dan perempuan tidak diijinkan untuk memilikinya. Kedua, laki-laki lebih memiliki pendidikan formal di universitas, dan belajar tentang membedah mayat, studi kasus dan teori-teori klasik. Di lain pihak perempuan hanya belajar dari pengalaman-pengalaman. Ketiga, bidan laki-laki dan perempuan memandang pasien secara berbeda. Yang mana bidan perempuan lebih mengembangkan hubungan antar individu dengan sifat keibuannya, sementara bidan laki-laki lebih menekankan dari sisi medisnya.

Meskipun bidan laki-laki mendapatkan popularitas, penerimaan adanya bidan laki-laki tidak sepenuhnya disepakati. Banyak orang percaya bahwa laki-laki tidak seharusnya berada di ruang persalinan, karena laki-laki tidak mengalami secara langsung proses persalinan, sehingga mereka tidak ahli di bidang itu. Beberapa kritikus bahkan mengutip Alkitab yang menyatakan tidak ada laki-laki dalam proses persalinan yang tercatat, kritik lain menganggap bidan laki-laki mengganggu wilayah domestik pria.

Proses persalinan yang tidak dihadiri oleh suami atau ayah bayi, keberadaan bidan laki-laki dianggap tidak patut, dan rentannya perilaku yang tidak patut dilakukan oleh bidan laki-laki atas tubuh perempuan, selain itu issu kesopanan sehingga banyak suami melarang bidan laki-laki untuk datang ke rumah mereka.. Sementara itu isu-isu gender diperdebatkan, begitu pula kecurigaan pemakaian alat-alat dalam ruang persalinan, kadang-kadang bidan laki-laki menggunakan alat yang tidak diperlukan pada persalinan normal sehingga menimbulkan risiko tambahan. .

by;febrina ok/bidanshop

Sumber
Image: Fores, Samuel William. “A Man-Mid-Wife.” From Man-Midwifery Dissected. London, 1793. (Wellcome Library, London)
(1) Schnorrenberg. “Is Childbirth Any Place for a Woman? The Decline of Midwifery in Eighteenth-Century England.” Studies in Eighteenth Century Culture (10) 1981: 393.
(2)Fife, Ernelle. “Gender and Professionalism in Eighteenth-Century Culture.” Women’s Writing (11:2) 2004: 185-200.
 (3)Blunt, John. “Man-Midwifery Dissected: or, The Obstetric Family Instructor.” 1793.
(4) Stone, Sarah. “A Complete Practice of Midwifery.” 1737. 
http://www.wondersandmarvels.com/2008/12/men-and-women-in-midwifery.html

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KEBIDANAN PADA MASA LAMPAU"

Post a Comment