ACTIVE BIRTH (PERSALINAN AKTIF) ADALAH

Metode ini masih terkenal di dunia barat, hal ini dilatar belakangi asumsi paramedis bahwa persalinan merupakan peristiwa medis yang membutuhkan perawatan intensif, dimana kehamilan terlihat seperti kondisi patologis yang menganjurkan pasien istirahat di tempat tidur. Sehingga banyak para ahli kebidanan tidak menerapkan proses persalinan secara alamiah. Setelah hadirnya metode ini, 25% dokter kebidanan mulai mengajukan penerapan metode ini di tempat prakteknya, tetapi 3% staf medis tidak mendukung persalinan aktif ini dikarenakan metodenya tidak praktis dan meminimalkan observasi dalam proses persalinan (Lawrence,2009). Keberhasilan pelaksanaan metode persalinan aktif di United Kingdom yakni sebesar, 46% lahir secara alamiah dengan posisi berlutut, 29%, perpaduan 4 posisi 28%, miring kekiri 23%, berdiri 9%, dan berjongkok 4%. Lebih dari 200 bidan United Kingdom telah melaksanakan metode ini (Lawrence, 2009).

Di Indonesia metode active birth sebenarnya sudah dilaksanakan sebagai salah satu asuhan perawatan pada proses persalinan, yakni dalam hal mobilisasi yang menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang dianggap paling nyaman dengan tujuan untuk meminimalkan rasa nyeri serta dapat mempengaruhi lamanya kala I dan kala II persalinan, hal ini sesuai dengan standar bidan menurut WHO tahun 2003 dalam hal bidan sebagai pendamping persalinan. Pada umumnya masih banyak ibu bersalin yang mengalami perpanjangan kala I dan ibu bersalin lebih banyak melalui kala I dengan berbaring di tempat tidur karena tidak tahan dengan rasa sakit kontraksi dan beberapa pasien karena alasan lain.

Definisi 
Persalinan aktif dapat diuraikan sebagai peristiwa medis yang bukan diatur dokter atau bidan. Tetapi segalanya dikembalikan kembali kepada ibu, bagaimana ibu mengikuti insting dan panggilan psikologis tubuhnya untuk melalui persalinan dan mengurangi rasa sakit. Sebenarnya, ibu memiliki kontrol penuh atas tubuhnya yang dapat dimanfaatkan untuk itu (Bonny, 2008).

Active Birth merupakan proses persalinan dimana ibu dianjurkan sebagai partisipan aktif, membiarkan ibu mencari posisi yang membuatnya nyaman dan mengurangi rasa sakit (Balaskas, 2004).  

Tujuan Active Birth 
Persalinan aktif sebaiknya sudah dimuai sejak awal kehamilan, metode ini melibatkan hubungan kemitraan antara ibu dengan ahli medis. Metode ini memberikan daya bagi ibu sebagai partisipan aktif dalam kehamilan maupun persalinannya. Pendekatan metode ini adalah melakukan apapun yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan terjadinya persalinan secara alamiah atau persalinan yang sesuai dengan panggilan tubuh. Tujuanya menghindari penggunaan obat atau intervensi rutin yang sebenarnya tidak diperlukan. Artinya juga memiliki pengetahuan dan kebijakan tentang waktu yang tepat untuk memberikan obat atau intervensi dengan cara yang terbaik penggunaanya demi meminimalkan efek samping (Balaskas, 2004). 

Salah satu insting dan panggilan tubuh ibu yang alamiah adalah mencari posisi paling naman dan tidak sakit. Sayangnya selama ini ibu sering mengabaikan panggilan ini karena ketidaktahuan bahwa ada posisi tubuh yang dapat membuat ibu nyaman dan tidak sakit. Hal ini karena ibu terjebak dalam aturan rumah sakit, misalnya anjuran untuk terus berbaring di ranjang, sehingga ibu memilih posisi pasif. Ketika ibu bergerak bebas dan aktif, sebenarnya ibu dapat menemukan posisi yang nyaman yaitu posisi tegak. Ibu dapat mengeksplorasi posisi yang nyaman menurutnya, contohnya berjalan, berlutut, duduk atau jongkok. 

Berikut ini manfaat dari active birth
  1. Berkurangnya Sakit. Sebenarnya posisi berbaring saat kontraksi akan melawan gravitasi serta membuat kontraksi kurang efisien dan lebih menyakitkan. Saat kontraksi cenderung kurang menyakitkan jika ibu dalam posisi tegak daripada berbaring, ini karena sepanjang kontraksi rahim maju secara alamiah. 
  2. Lebih banyak Oksigen untuk Bayi. Dalam posisi berbaring, atau setengah berbaring, berat rahim dapat mencapai 5 kg dan menindih pembuluh darah besar yang mengalirkan darah ke rahim sehingga bayi kekurangan oksigen. Suplai oksigen untuk bayi akan lebih baik jika ibu tegak daripada berbaring. Jika ibu bangun dan bergerak, ibu bernapas lebih baik, sehingga lebih banyak oksigen untuk bayi. 
  3. Posisi optimal. Posisi tegak mencegah terjadinya posisi bayi yang salah, sungsang, atau menyakitkan ibu. 
  4. Kontraksi Efektif. Jika ibu berbaring,tekanan bayi berkurang, sehingga peregangan mulut rahim lebih lambat. Posisi tegak menyediakan lebih banyak ruang untuk bayi dan mengurangi rasa sakit, khususnya sakit punggung.Selain itu berat bayi akan menekan rongga panggul dan meregangnkan mulut rahim. Sehingga persalinan akan lebih singkat. 
  5. Lebih mudah Mengejan. Dalam posisi tegak,daya gravitasi ikut menarik ibu saat mengejan,posisi bayi turun jadi lebih mudah,tinggal meluncur dan keluar. 
  6. Lebih Kecil Risiko Perobekan Perinium. Jika tegak, perineum, dapat melebar dengan leluasa sehingga bayi lebih mudah melewati dan mengurangi risiko robekan. 
  7. Mempererat Hubungan Ibu, Bayi dan Pendamping Persalinan. Di akhir persalinan, ibu akan merasa takjub dan puas dengan seluruh pengalaman yang dilaluinya. Ibu dan bayi berbagi hormon Oksitosin dan Endorfin. Hormon yang membuat mereka mempunyai hubungan yang lebih erat. Umumnya pendamping persalinan atau pasangan pun lebih banyak terlibat dalam metode persalinan aktif, baik secara fisik maupun emosional. Kenangan bersama ini akan sangat berkesan dan merupakan awal yang baik dalam memulai kehidupan sebagai keluarga baru.
Metode-Metode dalam Active Birth: 
Yoga, Bola-bola persalinan, Kompres hangat-dingin, Berendam dalam air hangat, Mobilisasi (mencari posisi senyaman mungkin) (Balaskas, 2004). 

Macam-Macam Posisi yang dianjurkan Pada Kala 1: 
  1. Posisi pada Awal Proses Persalinan : a. Berdiri, terutama dibawah pancuran air hangat dapat meredakan sakit kontraksi. b.Berjalan, membantu ibu bernapas lebih mudah, dan pastikan saat berjalan jalan ibu ditemani. c.Berlutut diatas satu kaki sedangkan kaki yang lainya ditekuk. d.Menggerakkan pinggul kedepan dan belakang atau bentuk lingkaran untuk membantu bayi bergerak menuju panggul dan untuk membuat ibu nyaman. Seluruh posisi diatas berguna untuk membuat kontraksi efektif dan menolong ibu merasa terkendali. Jika ingin mengubah posisi seiring kemajuan proses persalinan, mintalah bantuan pendamping persalinan atau bidan. Hal itu merupakan tugas mereka untuk membuat ibu nyaman dengan menggunakan bantal, kasur kecil, atau pilihan lain. 
  2. Posisi Saat Kontraksi Kuat. Ketika ibu mengalami kontraksi kuat, mungkin tidak ingin bergerak karena ibu menggunakan seluruh kekuatan untuk menahan rasa sakit. Tetapi secara alamiah ibu akan menemukan posisi paling nyaman, tetaplah bergerak dan bersandar sepanjang kontraksi, ibu akan baik kembali di sela kontraksi. 
  3. Posisi Istirahat. Jika ibu benar-benar lelah dan ingin tiduran, berbaringlah pada sisi kiri tubuh. Efek berbaring miring lebih bagus bagi bayi karena memberikanya lebih banyak oksigen. Jika sudah cukup istirahat, kembalilah ke posisi duduk, kemudian bangun kembali. 
  4. Posisi untuk Sakit Punggung. Jika ibu mengalami sakit punggung diantara kontraksi, caranya lakukan posisi merangkak dengan bantal berada dibawah lutut dan tangan agar ibu tetap nyaman (Bonny, 2008). Nyeri punggung terjadi akibat punggung menahan berat beban janin, jadi selain posisi merangkak, lakukanlah posisi menungging serta pijatan lembut pada punggung, hal ini juga membantu janin berada pada posisi yang terbaik. Jika aliran darah ke kepala terlalu cepat dan kepala terasa berat, maka gunakan bantal untuk mensejajarkan kepala dengan punggung (Annemarie Lawrence, 2009). 
Molina tahun 1997 dan O'Hara 2002 menyatakan bahwa posisi tegak dapat meringankan nyeri dan mempermudah pendamping persalinan untuk memberikan pijatan lembut pada punggung saat terjadi kontraksi. 
Yang dapat dilakukan ibu selama kala I : 
  1. Bersandar pada kursi 
  2. Menungging 
  3. Merangkul pendamping persalinan pada saat kontraksi 
  4. Duduk dalam toilet atau bak air 
Teknik Mengurangi Rasa Nyeri 
  1. Menghadirkan pendamping Kehadiran pendamping dalam proses persalinan dapat mengurangi intensitas nyeri kontraksi karena sentuhan berupa pijatan lembut maupun dukungan moril. 
  2. Mobilisasi Mobilisasi sangat penting dalam persalinan, merubah posisi khususnya ketika merasakan kontraksi. Gerakan berdiri, berjalan, dan berjongkok merupakan gerakan yang paling efektif untuk dapat membantu proses turunya bagian terendah janin. Gerakan miring ditempat tidur dapat memberikan kondisi yang santai, oksigenasi yang baik untuk janin serta meminimalkan laserasi, sedangkan gerakan merangkak dapat mempercepat rotasi, meminimalkan peregangan perinium, dan sakit punggung. 
  3. Relaksasi pernapasan 
  • Aromatherapy 
  • Istirahat sebisa mungkin disela kontraksi 
  • Informasi kemajuan persalinan 
  • Sentuhan lembut (message) 
  • Kompres hangat (gel panas) dan dingin 
  • Berendam dalam bak yang berisi air hangat 
  • Mengeluarkan suara lembut h.Mendekatkan diri dengan Tuhan (berdoa) 
  • Menjaga ketenagan lingkungan dengan cara memberikan cahaya temaram dalam kamar bersalin, membawa barang kesayangan, dan mendengarkan lagu-lagu favorit (Lusi, 2008). 
Teknik Memilih Persalinan Normal (Spontan) 
  1. Memotivasi pikiran dalam diri untuk dapat melahirkan secara normal (fisiologis). Pada saat kita merasakan nyeri kontraksi, kita menyadari bahwa persalinan ini merupakan pilihan kita dari awal, sehingga kita dapat meminimalkan bayi kita dari efek intervensi medis. 
  2. Membuat rencana persalinan Rencana persalinan merupakan hal penting sebagai cara untuk berdiskusi dengan pasangan tentang tempat persalinan dan bagaimana cara persalinan yang akan dilalui. Pada saat persalinan kita juga dapat mencoba posisi yang paling nyaman dengan bantuan pendamping kita dalam persalinan. 
  3. Memilih bidan atau dokter yang akan memberikan dukungan kepada kita 
  4. Mencari informasi tentang persalinan normal Jika dalam keluarga atau teman tidak ada yang mendukung kita, carilah artikel dan pengalaman melahirkan secara normal melalui internet, bergabung dengan kelompok yang dapat memberikan inspirasi, informasi, dan menghapus keraguan kita untuk memilih persalinan normal. 
  5. Mencari pendamping persalinan Pendamping persalinan yakni ibu, suami, saudara atau keluarga lainya untuk melihat kelahiran bayi kita, memberikan dukungan pada saat kita merasakan kontraksi yang kuat dengan sentuhan atau bantuan dalam mencari posisi yang nyaman. 
  6. Membelajari diri sendiri 
  7. Meyakini keadaan tubuh serta bayi kita (Sarah J Buckley, 2005) 
Posisi Persalinan
Sumber 
Susanti E, Hapinasari O, Utami L R, Indriyani. Pengaruh Active Birth terhadap proses persalinan kala I fase Aktif. Tersedia di http://download.portalgaruda.org/article.php?article=200893&val=6633&title=PENGARUH%20ACTIVE%20BIRTH%20TERHADAP%20PROSES%20PERSALINAN%20KALA%20I%20FASE%20AKTIF

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "ACTIVE BIRTH (PERSALINAN AKTIF) ADALAH"

Post a Comment