Senin, 20 Oktober 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN PELAYANAN KEBIDANAN DI DALAM NEGERI (KONSEP KEBIDANAN)


Materi kuliah DIV Kebidanan 
Mata Kuliah : Konsep Kebidanan 
Pertemuan    : III (Tiga)

1807 
Zaman gubernur Jenderal Hendrik William Deandels, dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, melihat angka kematian ibu dan anak sangat tinggi pada zaman itu. Tetapi tidak berlangsung lama karena tidak ada pelatih kebidanan.  

1849 
Di buka pendidikan dokter Jawa di Batavia (di Rumah Sakit Militer Belanda, sekarang RSPAD Gatot Subroto. 

1851 
Pendidikan Bidan bagi wanita pribumi didirikan oleh dokter militer belanda (Dr. W. Bosch). Awal pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh dukun dan bidan. Pendidikan ini tidak berlangsung lama, karena ada larangan wanita untuk keluar rumah. 

1873 
Tiga puluh tujuh bidan yang berdomisili di kota hanya mau menolong persalinan orang Belanda dan Cina 

1890 
Pihak swasta Misi Katholik Tjideres Jawa Barat dan Sumatera Utara membuka sekolah bidan 1897 Pendidikan bidan di buka oleh Prof. Boerma. Pendidikan ini dibuka karena keprihatinan terhadap persalinan ditandai dengan angka kematian ibu (AKI) yang sangat tinggi 1600 per 100.000 persalinan hidup, dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 30% dari kelahiran sebelum mencapai satu tahun.  

1902 
Pendidikan bidan di buka kembali untuk wanita pribumi. Di Rumah Sakit Militer di Batavia. 

1904 
Pendidikan Bidan di buka di Makassa untuk wanita pribumi. Lulusan ini harus mau ditempatkan dimana saja, untuk menolong masyarakat yang tidak mampu secara Cuma-Cuma, dengan tunjangan 15-25 Gulden per bulan. 

1911/1912 
Dimulai pendidikan keperawatan di CBZ (RSUP) semarang dan Batavia. Calon peserta dari HIS (SD 7 Tahun). Pendidikan keperawatan selama 4 tahun dan hanya menerima peserta pria pada awalnya. 

1914 
Diterima peserta didik wanita untuk dididik menjadi perawat selanjutnya dapat mengikuti pendidikan bidan selama 2 tahun. 

1935-1938 
Pemerintah Belanda mendidik bidan lulusan Mulo (setingkat SLTP bagian B), seiring dengan itu, dibuka sekolah bidan di kota besar lainnya antara lain di Jakarta ada RSB Budi Kemuliaan, dan di Semarang ada RSB Palang Dua, RSB Mardi Waluyo. Di tahun yang sama dikeluarkan peraturan yang membedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan. Bidan dengan dasar pendidikan Mulo dan pendidikan kebidanan selama tiga tahun disebut Bidan Kelas Satu (Vroedvrouw eerst klas) dan bidan dari lulusan perawat disebut Bidan Kelas Dua (vroedvrouw tweede klas). Perbedaan ini menyangkut ketentuan gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. 

1950-1953 
Dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP, batas usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun. Pendidikan pembantu bidan yang disebut “Penjenang Kesehatan E atau Pembantu Bidan” di buka pada tahun ini sampai tahun 1976, setelah itu ditutup, peserta didiknya adalah lulusan SMP ditambah 2 tahun kebidanan dasar. 

1952-1975 
Dibuka pendidikan bidan, pesertanya calon lulusan SMP. Lama pendidikannya 3 tahun. 

1953 
Dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta, selama 7-12 minggu. Tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta untuk memperkenalkan pengembangan program kesehatan ibu dan anak pada lulusan bidan, sebelum menjalankan tugas sebagai bidan, terutama bidan BKIA. Tahun 1967 program ini ditutup. 

1954 
Dibuka program pendidikan guru dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung. Pada mulanya pendidikannya hanya setahun, menjadi dua tahun dan berkembang menjadi tiga tahun. Tahun 1972 sekolah ini dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP), dengan calon peserta berasal dari sekolah perawat dan sekolah bidan. 

1957 
Didirikan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi memberi pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga Berencana. Pelayanan kebidanan yang dilakukan di luar Puskesmas dilakukan melalui Posyandu (pos pelayanan terpadu) meliputi empat kegiatan: pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan. 

1964 
Rumah Sakit Saint Caroulus memulai pendidikan bidan dengan peserta dari tamatan SMA dengan lama pendidikan 4 tahun. 

1968 
Pemerintah mengeluarkan Kepmenkes No. 49/1968 tentang peraturan penyelenggaraan sekolah bidan.  

1970 
Dibuka Program Pendidikan Bidan, menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut Aekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK) 

1972 
Dibuka Sekolah Guru Perawat/Bidan/Perawat Kesehatan Masyarakat. Lama pendidikan satu tahun, ditutup pada tahun 1987

1974 
Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan tujuan adanya multi-purpose di lapangan yang salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal.  

1974-1984 
Pendidikan bidan ditutup selama sepuluh tahun sehingga tidak menghasilkan lulusan bidan, tetapi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) tetap ada. 

1978 
Diadakan pelatihan Dukun sebanyak 110.000 orang, karena tercatat 90-92% persalinan ditolong oleh dukun, 6% ditolong bidan dan 1% ditolong oleh Dokter. 

1979 
Ada 16.888 bidan, 8000 dokter umum, dan 286 dokter spesialis kebidanan dan kandungan.  

1981 
Dibuka pendidikan Diploma I KIA (hanya berlangsung 1 tahun) 

1985 
Pemerintah membuat kebijakan untuk membuka program pendidikan mahir KIA dari SPK plus 1 tahun. IBI menolak nama “mahir KIA” tetapi menerima “bidan”. Program penyelenggaraan pendidikan bidan pada tahun 1985 diatur dalam Permenkes No. 386/Menkes/SK/VII/1985 tanggal 22 Juli 1985. Pedoman umum penyelenggaraan bidan diatur dalam Kepmenkes No. 2221/Kep/Diknakes/XII/1987. 

1989 
Dibuka crash programme Pendidikan Bidan (lulusan SPK= PPB A (program pendidikan bidan A) dengan pendidikan selama 1 tahun, setelah itu diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Gol II. Tahun 1996 statusnya menjadi bidan pegawai tidak tetap (PTT), dengan kontrak kerja selama tiga tahun serta dapat diperpanjang masa kontraknya. 

1993 
Dibuka Program Pendidikan Bidan B (Akper dengan lama pendidikan 1 tahun). Tujuannya untuk menjadi pengajar pada PPB A. Pendidikan hanya berlangsung 2 angkatan (1995-1996) dan ditutup. Selanjutnya dibuka Program Pendidikan Bidan C (PPB C) dari lulusan SMP yang dilakukan di 11 propinsi (Aceh, Bengkulu, Lampung, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, NTT, Maluku dan Irian Jaya). Diselesaikan dalam 6 semester, dan lama belajarnya 3600 jam. 

1994-1995 
Pendidikan Bidan Jarak Jauh (Distance Learning), masih dalam tahap uji coba di tiga provinsi, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tujuannya untuk peningkatan kualitas tenaga kesehatan dan diatur oleh SK Menkes No. 1247/Menkes/SK/XII/1994. 

1994 
Dilaksanakan LSS (Life Saving Skill) dengan materi pembelajaran berbentuk 10 modul, pelaksananya rumah sakit provinsi/ Kabupaten. 

1995-1998 
IBI bekerjasama dengan Mother Care melaksanakan pelatihan peer review untuk bidan di rumah sakit, di puskesmas, dan bidan di desa kalimantan selatan. 

1996 
IBI bekerja sama dengan Depkes dan American College of Nurse Midwife (ACNM) dan rumah sakit swasta mengadakan Training of Trainer (TOT). Didirikan D3 Kebidanan yang berasal dari D1 Kebidanan dengan lama pendidikan 5 semester 

1998 
Didirikan D3 Kebidanan yang berasal dari SMU dan SPK dengan lama pendidikan 6 semester 

2000 
APN telah terbentuk Didirikan D4 Bidan Pendidik UGM 

2001 
Ada 65 institusi penyelenggara D3 Kebidanan (Depkes, TNI, Pemda, Swasta, dll) Didirikan D4 Kebidanan UNPAD 

2002 
D4 Kebidanan di USU 

2004 
D4 Kebidanan di Ngudi Waluyo, dll 

2006 
S2 Kebidanan Unpad 

2008 
S1 Kebidanan di UNAIR 
 
2009-2014
Dibukanya berbagai pendidikan kebidanan jenjang S2 dan S1 di beberapa kota di Indonesia.

Febrina Oktavinola Kaban
Readmore »»

FALSAFAH DAN PARADIGMA KEBIDANAN (KONSEP KEBIDANAN)


Materi kuliah DIV Kebidanan 
Mata Kuliah : Konsep Kebidanan 
Pertemuan    : II (Dua) 

FILOSOFI PENDIDIKAN DIPLOMA KEBIDANAN 
TUJUAN DAN ARAH PENDIDIKAN 

Program Diploma III 
Diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalam bidang kerja yang bersifat rutin maupun yang belum akrab dengan sifat-sifat maupun kontekstualnya, secara mandiri dalam pelaksanaan maupun tanggung jawab pekerjaan, serta mampu melaksanakan pengawasan dan bimbingan atas dasar ketrampilan manajerial yang dimilikinya. 

Program Diploma IV 
Diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar kemampuan profesional tertentu, termasuk ketrampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggung jawab mandiri pada tingkat tertentu, memiliki ketrampilan manajerial, serta mampu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi di dalam bidang keahliannya. 

Program Magister Kebidanan (M.Keb) 
Diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar kemampuan profesional tertentu, termasuk ketrampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggung jawab mandiri pada tingkat tertentu, memiliki ketrampilan penelitian, manajerial, serta mampu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi di dalam bidang keahliannya. 

Kompetensi Bidan 
Bidan D-1 : Pelayanan Kebidanan 
Bidan D-3 : Bertanggung jawab Pelayanan Kebidanan Profesional 
Bidan D-4 : Pelayanan Kebidanan Profesional, Pendidikan Kebidanan, Manajemen 
Bidan S2   : Pelayanan Kebidanan Profesional, Pendidikan Kebidanan, Manajemen, Kepemimpinan, Penelitian. 

Falsafah, Paradigma dan model dalam asuhan kebidanan 
Falsafah Kebidanan 
  1. Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan. Hamil dan bersalin merupakan suatu proses alamiah dan bukan penyakit. 
  2. Keyakinan tentang Perempuan. Setiap perempuan adalah pribadi yang unik mempunyai hak, kebutuhan, keinginan masing-masing. Oleh sebab itu perempuan harus berpartisipasi aktif dalam setiap asuhan yang diterimanya. 
  3. Keyakinan fungsi Profesi dan manfaatnya. Fungsi utama profesi bidan adalah mengupayakan kesejahteraan ibu &bayinya, proses fisiologis harus dihargai, didukung dan dipertahankan. Bila timbul penyulit, dapat menggunakan teknologi tepat guna dan rujukan yang efektif, untuk memastikan kesejahteraan perempuan &janin/bayinya. 
  4. Keyakinan tentang pemberdayaan perempuan dan membuat keputusan. Perempuan harus diberdayakan untuk mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dan konseling. Pengambila keputusan merupakan tanggung jawab bersama antara perempuan, keluarga &pemberi asuhan. 
  5. Keyakinan tentang tujuan Asuhan. Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada: pencegahan, promosi kesehatan yang bersifat holistik, diberikan dg cara yang kreatif & fleksibel, suportif, peduli; bimbingan, monitor dan pendidikan berpusat pada perempuan; asuhan berkesinambungan, sesuai keinginan & tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan
  6. Keyakinan ttg Kolaborasi dan Kemitraan. Praktik kebidanan dilakukan dengan menempatkan perempuan sebagai partner dengan pemahaman holistik terhadap perempuan, sebagai satu kesatuan fisik, psikis, emosional, sosial, budaya, spiritual serta pengalaman reproduksinya. Bidan memiliki otonomi penuh dalam praktiknya yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya
  7. Sebagai Profesi bidan mempunyai pandangan hidup Pancasila, seorang bidan menganut filosofis yang mempunyai keyakinan di dalam dirinya bahwa semua manusia adalah mahluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang unik merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dan tidak ada individu yang sama. 
  8. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Setiap individu berhak menentukan nasib sendiri dan mendapatkan informasi yang cukup dan untuk berperan disegala aspek pemeliharaan kesehatannya 
  9. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.  
  10. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga, yang membutuhkan persiapan sampai anak menginjak masa masa remaja. Keluarga-keluarga yang berada di suatu wilayah/daerah membentuk masyarakat kumpulan dan masyarakat Indonesia terhimpun didalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Manusia terbentuk karena adanya interaksi antara manusia dan budaya dalam lingkungan yang bersifat dinamis mempunyai tujuan dan nilai-nilai yang terorganisir. 

PARADIGMA KEBIDANAN 
Pengertian Paradigma 
- Cara Pandang 
- Lensa yang kita gunakan untuk memandang dunia 
- Ibarat sebuah peta, yang memberikan panduan untuk menjalankannya 

Bidan dalam bekerja memberikan pelayanan keprofesiannya berpegang pada paradigma, berupa pandangan terhadap manusia / perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan / kebidanan dan keturunan. 

Ada 5 komponen paradigma kebidanan yaitu : 
1. MANUSIA/PEREMPUAN 
  • Mahluk bio-psiko-sosio-kultural yang utuh dan unik
  • Perempuan sebagai sumber daya insani merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga
  • Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/kondisi perempuan/Ibu dalam keluarga. Para perempuan di masyarakat adalah penggerak dan pelopor peningkatan kesejahteraan keluarga.
2. Lingkungan 
  • Lingkungan fisik, psikososial, biologis maupun budaya. Lingkungan psikososial meliputi keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakat. Ibu selalu terlibat dalam interaksi keluarga, kelompok, komunitas, dan masyarakat.  
  • Perempuan merupakan bagian dari anggota keluarga dari unit komunitas. Keluarga yang dalam fungsinya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada.  
  • Keluarga dapat menunjang kebutuhan sehari-hari dan memberikan dukungan emosional kepada ibu sepanjang siklus kehidupannya. Keadaan sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan reproduksi perempuan. 
Lingkungan terdiri dari: 
- Lingkungan Fisik 
  • Terdiri dari semua benda-benda mati yang berada disekitar kita.  
  • Wanita merupakan bagian dari keluarga serta unit dari komuniti  
  • Keluarga bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan 
- Budaya 
  • Meliputi sosial-ekonomi, pendidikan, kebudayaan. 
  • Lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan bumil, bulin dan bufas. - Psikososial 
  • Ibu sebagai ♀ terlibat dalam interaksi antara keluarga, kelompok, dan masyarakat 
  • Keberadaan ♀ yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sangat diperlukan karena ♀ mempunyai 5 peran yang sangat penting dalam keluarga. 
- Biologis 
  • Meliputi genetika, biomedik dll
  • Manusia merupakan susunan sistem organ tubuh yang mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. 
3. Perilaku 
Perilaku merupakan hasil seluruh pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. 

Perilaku SEHAT 
  • Perilaku merupakan hasil segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang terwjud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan perilaku manusia bersifat holistik atau menyeluruh
  • Ibu yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman serta selalu melakukan hubungan atau interaksi dengan lingkungannya maka akan mendapat informasi dalam menjaga kesehatannya. 
4. Pelayanan Kebidanan 
  • Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.  
  • Pelayanan Kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga, sesuai dengan kewenangan dalam rangka tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.  
  • Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan 
Pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi : 
  • Layanan Primer  
  • Layanan Kolaborasi  
  • Layanan Rujukan 
5. Keturunan 
Keturunan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas manusia. Manusia  yang sehat dilahirkan oleh ibu yang sehat. 

MIDWIFERY CARE 
Midwifery Care atau asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu kebidanan. 

Prinsip Asuhan Kebidanan 
  1. Memahami bahwa kelahiran anak merupakan proses alamiah.  
  2. Tidak melakukan intervensi tanpa adanya indikasi sebelum berpaling ke teknologi, menggunakan cara yang sederhana.  
  3. Aman, berdasarkan fakta, & memberi kontribusi pd keselamatan jiwa ibu.  
  4. Terpusat pada ibu, bukan terpusat pd pemberi asuhan kesehatan/lembaga (sayang  
  5. Menjaga privasi dan kerahasiaan ibu.  
  6. Membantu ibu merasa nyaman, aman, dan didukung secara emosional.  
  7. Memastikan bahwa kaum ibu mendapat informasi, penjelasan, & konseling yang cukup.  
  8. Mendorong ibu & keluarga agar aktif dalam membuat keputusan setelah mendapat penjelasan mengenai asuhan yg akan mereka dapatkan.  
  9. Menghormati praktik adat & keyakinan agama mereka.  
  10. Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu/keluarganya selama masa kelahiran anak.  
  11. Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan & pencegahan penyakit. 
Program yang dilakukan Women Center Care 
1. Gerakan Sayang Ibu 
2. Asuhan Persalinan Normal 
3. Making Pregnancy Safer (MPS) 

Febrina Oktavinola Kaban
Readmore »»

Sabtu, 18 Oktober 2014

FILOSOFI KEBIDANAN (KONSEP KEBIDANAN)


Materi kuliah DIV Kebidanan 
Mata Kuliah  : Konsep Kebidanan 
Pertemuan     : I (Satu)  

FILOSOFI KEBIDANAN 

ISTILAH FILSAFAT 
• Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi). 
• Filsafat dalam bahasa Inggris yaitu: philosophy. Jadi, secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Istilah “filsafat” merupakan padanan kata “falsafah” (bahasa arab) dan philosophy (bahasa inggris)

FILOSOFI KEBIDANAN
• Filosofi kebidanan merupakan Pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberi pelayanan kebidanan.
 • Falsafah asuhan kebidanan menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberi asuhan kebidanan.

PENDEKATAN FILSAFAT DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
1. Pendekatan Ontologis 
• Ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. WHAT?????? 
• Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani. On/Ontos = being/ ada dan Logos= logic/ ilmu. Jadi Ontologi adalah The theory of being dua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Jadi ontologi adalah ilmu mengenai sesuatu yang ada dan tidak ada, atau dengan kata lain, mempelajari mengenai realitas. 

2. Pendekatan Epistemologi 
• Istilah “Epistemologi” sendiri berasal dari kata Yunani episteme= pengetahuan dan logos=  perkataan, pikiran, ilmu. 
• Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya. HOW??????? 

3. Pendekatan Aksiologi 
• Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”. WHAT FOR?????? 

DEFENISI BIDAN 
Dalam bahasa inggris, kata Midwife (Bidan) berarti “with woman”(bersama wanita, mid= together, wife= a woman. Dalam bahasa Perancis, sage femme (Bidan) berarti “ wanita bijaksana”,sedangkan dalam bahasa latin, cum-mater (Bidan) berarti ”berkaitan dengan wanita”. 

Defenisi Bidan menurut ICM 
A midwife is a person who, having been regulary admitted to a midwifery educational program fully recognized in the country in which it is located, has succesfully completed the prescribed caurse of studies in midwifery and has acquired the requiste qualification to be registered and or legally licensed to practice midwifery. 

Defenisi Bidan menurut IBI 
Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti menyelesaikan pendidikan yang diakui oleh pemerintah dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku, diregistrasi,diberi izin secara sah untuk menjalankan praktek. 

Defenisi Bidan menurut permenkes RI no.1464 th 2010 
Bidan adalah Seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan 

RUANG LINGKUP PRAKTIK KEBIDANAN 
  • Prakonsepsi
  • Bayi baru lahir
  • Remaja
  • Ibu hamil, bersalin, nifas
  • Masa Antara (KB dan gangguan reproduksi)
  • Klimakterium
  • Menopouse 
DILAKSANAKAN DENGAN CARA 
  • Mandiri 
  • Kolaborasi 
  • Rujukan 
PELAYANAN KEBIDANAN 
Seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan Meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat. 

PRAKTIK KEBIDANAN 
Penerapan ilmu kebidanan dalam memberikan pelayanan / asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan manajemen kebidanan.

Febrina Oktavinola Kaban
Readmore »»

Rabu, 15 Oktober 2014

FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL


FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL 

a. Defenisi Partus adalah 
Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Partus normal atau partus spontan adalah bila bayi lahir dengan presentase belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.  

b. Sebab-sebab mulainya persalinan 
  1. Teori kadar progesteron Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaiknya estrogen meningkatkan kontraksi otot rahim. Selama kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his. Plasenta menjadi tua dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun. 
  2. Teori oxytosin Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertambah. Oleh karena itu, timbul kontraksi otot-otot rahim. 
  3. Peregangan otot-otot Dengan majunya kehamilan, maka makin tereganglah otot-otot rahimsehingga timbullah kontraksi untuk mengeluarkan janin.  Pengaruh janin Hipofise dan kada suprarenan janin memegang peranan penting oleh karena itu pada ancepalus kelahiran sering lebih lama. 
  4. Teori prostaglandin Teori prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga aterm terutama saat persalinan yang menyebabkan kontraksi miometrium. 
c. Berlangsung nya persalinan normal Partus dibagi menjadi 4 kala 
  1. Kala I yaitu servik membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. Kala I disebut sebagai kala pembukaan 
  2. Kala II disebut kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai lahir  
  3. Kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan  
  4. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam 
d. Mekanisme persalinan normal 
3 faktor yang berperan penting pada persalinan ialah: kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan hisdan kekuatan mengedan, kekuatan jalan lahir dan janinnya sendiri. Pada presentase kepala, bila his sudah cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk masuk ke dalam rongga panggul. Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dalam keadaan sinklitismus, ialah bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul. Dapat pula kepala masuk masuk dalam keadaan asinklitismus, yaitu arah sumbu kepala janin miring dengan bidang pintu atas panggul. Asinklitismus anterior menurut Neegle ialah apabila arah sumbu kepala membuat sudut lancit ke depan dengan pintu atas panggul. Dapat pula asinklitismus posterior yaitu kebalikan dari asinklitismus anterior. Keadaan asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada mekanisme turunnya kepala dengan asinklitismus posterior karena ruangan pelvis di daerah posterior lebih luas dibandingkan ruangan pelvis di daerah anterior. Akibat sumbu kepala janin yang eksentrik atau tidak simetris, sumbu lebih mendekati suboksiput, maka tahanan oleh jaringan di bawahnya terhadap kepala yang akan menurun, menyebabkan kepala mengadakan fleksi di dalam rongga panggul. Dengan fleksi kepala janin memasuki ruang panggul dengan ukuran yang paling kecil, yakni dengan diamater suboksipitobregmatikus (9,5 cm) dan dengan sirkumferensia suboksipitobregmatikus (32 cm). Sampai di dasar panggul kepala janin berada di dalam keadaan fleksi maksimal. Kepala yang sedang turun menemui diafragma pelvis yang berjalaan dari belakang aatas ke bawah depan. Akibat kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intrauterin disebabkan oleh his yang berulang-ulang, kepala mengadakaan rotasi atau putaran paksi dalam. Dalam mengadakan rotasi ubun-ubun kecil akan berputar ke arah depan, sehingga di dasar panggul ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis. Sesudah kepala janin di dasar panggul dan ubun-ubun kecil di bawah simfisis, maka dengan suboksiput sebagai hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi untuk dapat dilahirkan. Pada tiap his vulva lebih membuka dan kepala janin makin tampak. Perineum menjadi makin lebar dan tipis, anus membuka dinding rektum. Dengan kekuatan his bersama dengan kekuatan mengedan, berturut – turut tampak bregma, dahi, muka dan akhirnya dagu. Sesudah kepala lahir, kepala segera mengadakan rotasi, yang disebut putaran paksi luar. Putaran paksi luar ialah gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam terjadi, untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung anak. Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya, sehingga di dasar panggul, apabila kepala telah dilahirkan, bahu akan berada dalam posisi depan belakang. Selanjutnya dilahirkan bahu depan terlebih dahulu baru baru kemudian bahu belakang. Demikian pula dilahirkan trohanter depan lebih dahulu, baru kemudian trohanter belakang. Kemudian bayi lahir seluruhnya. 

Sumber
Readmore »»

PERUBAHAN FISIOLOGIS KALA DUA PERSALINAN


A. Defenisi Kala II Persalinan 
Kala II persalinan adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil pengenalan proses dan penatalaksanaan pembukaan, batasan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan kelahiran bayi, kala II juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi (Depkes RI, 2007). Kala dua persalinan adalah kala pengeluaran, dimulai saat serviks telah membuka lengkap dan berlanjut hingga bayi lahir. 

B. Tujuan Asuhan Persalinan 
Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi (saepudin, 2007) 

C. Perubahan Fisiologis Pada Kala II Persalinan 
Proses fisiologis kala II persalinan diartikan sebagai serangkaian peristiwa alamiah yang terjadi sepanjang periode tersebut dan diakhiri dengan lahirnya bayi secara normal ( dengan kekuatan ibu sendiri). Gejala dan tanda kala II juga merupakan mekanisme alamiah bagi ibu dan penolong persalinan bahwa proses pengeluaran bayi sudah dimulai. Terkadang kesulitan transisi antara kala satu dan dua persalinanbiasanya merupakan indikator perubahan dan penyesuaian kembali yang dibuat secara fisik dan emosional agar persalinan berlanjut secara sukses. Perubahan perilaku dan sikap fisik wanita memberikan petunjuk visual dan auditori kepada bidan yang mencirikan akhir kala I persalinan dan awal kala II. Selama waktu ini, hormone sres yang berhubungan dengan persalinan berada dipuncaknya, menunjukkan respons fisiologis yang menyenangkan terhadap persalinan. 

Perubahan fisiologis secara umum yang terjadi pada persalinan kala II: 
  1. His menjadi lebih kuat dan lebih sering 
  2. Timbul tenaga untuk meneran 
  3. Perubahan dalam dasar panggul 
  4. Lahirnya fetus 

Perubahan Fisiologis Kala II Persalinan 
  1. Kontraksi Uterus /His i. Dimana kontraksi ini bersifat nyeri yang disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otot tekanan pada ganglia dalan serviks dan Segmen Bawah Rahim (SBR), regangan dari serviks, regangan dari tarikan pada peritoneum, itu semua terjadi pada saat kontraksi. Perubahan yang dirasakan yaitu : 
  • Mengalami kontraksi yang datar hampir secara beriringan, merasa lebih intens dan nyeri (karena pengaruh reseptor regangan dan efek oksitosin).  
  • Merasa sensasi ingin mengejan, meskipun serviks tidak cukup terdilatasi secara penuh-tidak ada rasional untuk mencegah wanita mengejan jika mereka mengiginkannya.  
  • Wanita memiliki sensasi ingin buang air besar selama kontraksi.  
  • Wanita dapat merintih dipuncak kontraksi dan menunjukkan kongesti pada wajahnya selama ia melakukan upaya mengejan  
  • Anus menonjol kemudian mendatar karena adanya kontraksi  
  • Desakan untuk mengejan memungkinkan bagian presentasi janin untuk menekan jaringan didasar panggul.  
  • Sekitar 1 cm diatas spina iskiadika, tekanan dari bagian presentasi janin menstimulasi reseptor saraf didasar panggul (reflex ferguson) dan ibu mengalami desakan yang tidak dapat tergelincir turun.  
  • Pada peristiwa kelahiran, saat dianjurkan untuk mengejan segera diawal kontraksi, mekanisme penarikan dapat menghilang atau dicegah, menyebabkan kekurangan atau kerusakan.  
  • Kontraksi dapat mereda selama periode 10-12 menit atau sampai dengan 2 jam, wanita biasanya mengambil kesempatan ini untuk tidur atau tidur-tiduran. 

Perubahan – Perubahan Uterus 
  1. Segmen atas rahim aktif, berkontraksi, dinding bertambah tebal  
  2. Segmen bawah rahim/SBR pasif, makin tipis  
  3. Selama persalinan, uterus berubah bentuk menjadi dua bagian yang berbeda. Segmen atas yang berkontraksi secara aktif menjadi lebih tebal ketika persalinan berlangsung. Bagian bawah, relative pasif disbanding dengan segmen atas, dan bagian ini berkembang menjadi jalan lahir yang berdinding jauh lebih tipis. Segmen bawah uterus analog dengan ismus uterus yang melebar dan menipis pada perempuan yang tidak hamil, segmen bawah secara bertahap berbentuk ketika kehamilan bertambah tua dan menipis sekali pada saat persalinan  
  4. Segmen atas uterus cukup kencang atau keras, sedangkan konsistensi segmen bawah uterus jauh kurang kencang.
  5. Segmen atas berkontraksi, mengalami retraksi, dan mendorong janin keluar; sebagai respons terhadap gaya dorong kontraksi segmen atas; sedangkan segmen bawah uterus dn serviks akan semakin lunak berdilatasi dan dengan demikian membentuk suatu saluran muscular dan fibromuskular yang menipis sehingga janin dapat menonjol keluar  
  6. Bagian atas uterus atau segmen aktif, berkontraksi kebawah meski pada saat isinya berkurang, sehingga tegangan miometrium tetap konstan. Efek akhirnya adalah mengencangkan yang kendur, dengan mempertahankan kondisi menguntungkan yang diperoleh dari ekspulsi janin dan mempertahankan otot uterus tetap menempel erat pada isi uterus. 

Perubahan Bentuk Uterus 
  1. Setiap kontrraksi menghasilkan pemanjangan uterus berbentuk ovoid disertai pengurangan diameter horizontal.  
  2. Pengurangan diameter horizontal menimbulkan pelurusan kolumna vertebralis janin, dengan menekan kutub atasnya rapat-rapat terhadap fundus uterus, sementara kutub bawah didorong lebih jauh kebawah dan menuju kepanggul. Pemanjangan janin berbentuk ovoid yang ditimbulkannya diperkirakan telah mencapai antara 5 sampai 10 cm; tekanan yang diberikan dengan cara ini dikenal sebagai tekanan sumbu janin.  
  3. Dengan memanjangnya uterus, serabut longitudinal ditarik tegang dan karena segmen bawah dan serviks merupakan satu-satunya bagian uterus yang fleksibel, bagian ini ditarik keatas pada kutub bawah janin. Efek ini merupakan faktor yang penting untuk dilatasi serviks pada otot-otot segmen bawah dan serviks. 

Perubahan pada Serviks 
Perubahan pada serviks pada kala II ditandai dengan pembukaan lengkap, pada pemeriksaan dalam tidak teraba lagi bibir portio, Segmen Bawah Rahim (SBR), dan Serviks. 

Perubahan pada Vagina dan Dasar Panggul 
  1. Jalan lahir disokong dan secara fungsional ditutup oleh sejumlah lapisan jaringan yang bersama-sama membentuk dasar panggul. Struktur yang paling penting adalah m.levator ani dan fasia yang membungkus permukaan atas dan bawahnya, yang demi praktisnya dapat dianggap sebagai dasar panggul. Kelompok otot ini menutup ujung bawah rongga panggul sebagai sebuah diafragma sehingga memperlihatkan permukaan atas yang cekung dan bagian bawah yang cembung. 
  2. Pada pemeriksaan pervaginam tepi dalam otot ini dapat diraba sebagai tepi tali tebal yang membentang kebelakang dari pubis dan melingkar vagina sekitar 2 cm diatas hymen. 
  3. Sewaktu kontraksi, m.levator in menarik rectum dan vagina ketas sesuai arah simfisis pubis sehingga bekerja menutup vagina. 
  4. Pada kala satu persalinan selaput ketuban dan bagian terbawah janin memainkan peran penting untuk membuka bagian atas vagina. Namun setelah ketuban pecah, perubahan-perubahan dasar panggul seluruhnya dihasilkan oleh tekanan yang diberikan oleh bagian terbawah janin. . 
  5. Perubahan yang paling nyata terdiri atas peregangan serabut- serabut m.levatores ani dan penipisan bagian tengah perineum, yang berubah bentuk dari massa jaringan berbentuk baji setebal 5 cm menjadi ( kalau tidak dilakukan episiotomy) struktur membrane tipis yang hampir transparan dengan tebal kurang dari 1 cm. 
  6. Ketika perineum teregang maksimal, anus menjadi jelas terbuka dan terlihat sebagai lubang berdiameter 2 sampai 3 cm dan disini dinding anterior rectum menonjol. 

Pola Penurunan Janin 
  1. Pada banyak nulipara, masuknya bagian kepala janin kepintu atas panggul telah tercapai sebelum persalinan mulai, dan penurunan janin lebih jauh tidak akan terjadi sampai awal persalinan. Sementara itu , pada multipara masuknya kepala janin kepintu atas panggul mula-mula tidak begitu sempurna, penurunan lebih jauh akan terjadi pada kala I persalinan.  
  2. Dalam pola penurunan dalam persalinan normal, terbentuknya kurva hiperbolik yang khas ketika station kepala janin diplot pada suatu fungsi suatu persalinan.  
  3. Dalam pola penurunan aktif biasanya tejadi setelah dilatasi serviks sudah maju untuk beberapa lama
  4. Pada nulipara, kecepatan turun biasanya cepat selama fase lereng maksimum dilatasi serviks. Pada waktu ini, kecepatan turun bertambah sampai maksimum, dan laju penurunan maksimal ini dipertahankan sampai bagian terbawah janin mencapai dasar perineum. 

Sumber: Readmore »»

Senin, 13 Oktober 2014

SYOK OBSTETRIK


1. Konsep Dasar 
Suatu keadaan klinis yang akut pada seorang penderita, yang bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah, akibat gangguan pada siklus mikro. Beberapa keadaan yang menjadi predisposisi terjadinya syok dalam kebidanan antara lain karena: anemi, gangguan gizi, partus lama disertai dehidrasi dan asidosis. Peristiwa – peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah : perdarahan, infeksi berat, solusio plasenta, perlukaan dalam persalinan, inversio uteri, emboli air ketuban, gabunngan dua atau lebih faktor diatas.  

2. Penanganan secara umum 
Mengingat bahwa syok, peristiwa – peristiwa yang dapat menimbulkan syok harus ditanggulangi sebaik – baiknya : pertama – tama kelancaran ventilasi harus dijamin, beri cairan infus, tanggulangi penyebab terjadinya syok. 

3. Penanganan Syok Hemoragik 
Dalam menangani ibu dalam keadaan syok hemorogik yang penting dilakukan oleh bidan adalah : siapkan diri dengan keyakinan bahwa kita telah benar mendeteksi penyebab syok, kemudian lakukan langkah – langkah penanganan dengan cepat dan tepat karena sedikit saja bidan lengah akan menimbulkan kematian pada ibu, ketersediaan alat – alat dan obat juga akan mempengaruhi keberhasilan dalam menangai syok karena perdarahan dalam beberapa detik saja pada seorang ibu masa ini kehilangan darah akan berakibat fatal sampai pada kematian. Langkah yang harus dilakukan setelah siap diri, alat, dan obat antara lain : segera hentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah, tidurkan ibu dengan posisi trendelenburg, jaga jangan sampai ibu kedinginan, jaga jaan nafas selalu dengan posisi dan longgarkan pakaian dan beri oksigen 100 % kira – kira 5l/menit melalui jalan nafas, sebelum persediaan darah siap berikan infus dengan larutan NaCl 0,9 %, RL, Dekstram, Plasma, dan sebagainya dengan memasang tekanan vena pusat (CVP) dan keadaan diuresis untuk mengukur keluar masuk cairan dengan tepat.

4. Penangaan syok septik 
a. Kelancaran ventilasi harus diperhatikan terlebih dahulu kemudian berikan oksigen (O2) diberikan dengan masker, jika perlu mempergunakan pipa endotrakial atau melakukan trakeotomi (dilakukan oleh dokter) serta oksigenisasi 100 %. 
b. Ibu harus mendapatkan cukup cairan dengan memberi larutan garam 0,9 %, RL, Dekstran, dan sebagainya dengan menggunakan CVP 
c. Untuk menghindari asidosis metabolik penderita diberi bicarbonat natikus. 
d. Berikan antibiotik dengan spektrum yang luas dan dosis tinggi secara intravena sebelum jenis kuman diketahui (sesuai instruksi dokter). 
e. Pemberian glukokortikoid besar manfaatnya pada penderita ini misal dexamethason 3mg/kg berat badan, suntikan jika perlu diulangi 4 jam kemudian. 

Sumber: Readmore »»

INVERSI UTERI


a. Defenisi Inversi uteri 
adalah keadaan dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.  

b. Faktor penyebab Terjadinya Inversi Uteri 
Adanya atonia uteri, serviks yang masih terbuka lebar dan adanya kekuatan yang menarik fundus kebawah (misalnya karna plasenta akreta, inkreta dan perkreta,yang tali pusatnya ditarik keras dari bawah) atau ada tekanan pada fundus uteri dari atas (manuver crede)atau tekanan intra abdominal yang keras dan tiba-tiba (misalnya batuk keras atau bersin). 

c. Tanda-Tanda Inversio Uteri 
Syok karna kesakitan, perdarahan banyak bergumpal, di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih melekat, bila baru terjadi maka prognosis tubuh baik akan tetapi bila kejadian cukup lama, maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia, nekrosis, dan infeksi. 

d. Tata laksana 
  1. Memanggil bantuan anastesi dan memasang infus untuk cairan/darah pengganti dan pemberian obat-obatan.  
  2. Beberapa senter memberikan tokolitik/MgSO4 untuk melemaskan uterus yang terbalik sebelum dilakukan reposisi manual yaitu mendorong endometrium keatas masuk ke dalam vagina dan terus melewati serviks sampai tangan masuk kedalam uerus pada posisi normalnya. Hal ini dapat dilakukan sewaktu plasenta sudah terlepas atau tidak  
  3. Di dalam uterus plasenta dilepaskan secara manual dan bila berhasil dikeluarkan sari rahim dan sambil memberikan uterotonika lewat infus atau IM, tangan tetap dipertahankan agar konfiguraasi uterus kembali normal dan tangan operator baru dilepaskan  
  4. Pemberian antibiotika dan tranfusi darah dengan keperluannya  
  5. Intervensi bedah dilakukan bila karena jepitan serviks yang keras menyebabkan manufer diatas tidak bisa dikerjakan, maka lakukan laparotomi untuk reposisis dan kalau terpaksa dilakukan histerektomi bila uterus sudah mengalami infeksi dan nekrosis. 
Sumber: Readmore »»

Home

Yang lagi baca..

Populer

Friends..

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez