Kamis, 30 Oktober 2014

KESEHATAN REPRODUKSI DAN KEPENDUDUKAN



1. Kesehatan reproduksi 
A. Pengertian kesehatan reproduksi 
Kesehatan reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi, serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit atau kecacatan (ICPD, 1994).  

Implikasi definisi kesehatan reproduksi berarti bahwa setiap orang mampu memiliki kehidupan seksual yang memuaskan dan aman bagi dirinya, juga mampu menurunkan serta memenuhi keinginannya tanpa ada hambatan apa pun, kapan dan berapa sering untuk memilikin keturunan. 

B. Hak-hak kesehatan reproduksi
  1. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi. 
  2. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi. 
  3. Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi. 
  4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan. 
  5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak. 
  6. Hak atas kebebasan dan keamanan yangberkaitan dengan kehidupan reproduksinya. 
  7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan diri, perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual. 
  8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. 
  9. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga. 
  10. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi. 
  11. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. 
Paket pelayanan kesehatan reproduksi meliputi hal-hal berikut ini: 
1. Paket pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif (PKRK) 
Pelayanan kesehatan reproduksi yang mencakup semua pelayanan tentang masalah kesehatan reproduksi dan seksual yang terjadi pada semua siklus kehidupan. 
Komponen PKRK meliputi: 
  1. Kesehatan bayi dan anak 
  2. Remaja 
  3. Infertilitas 
  4. Kekerasan terhadap perempuan 
  5. Kesehatan dan kesejahteraan maternal (safe motherhood) 
  6. Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS 
  7. Penyakit kanker alat reproduksi 
  8. Masalah usia lanjut seperti osteoporosis 
2. Paket pelayanan kesehatan reproduksi esensial (PKRE) 
ditujukan untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi yang menjadi prioritas. 
  1. Keluarga berencana(KB) 
  2. Kesehatan dan kesejahteraan maternal (safe motherhood) 
  3. Pencegahan dan manajemen komplikasi aborsi 
  4. PMS dan HIV/AIDS 
  5. Pencegahan dan manajemen infertilitas 
  6. Kesehatan reproduksi remaja. 
C. Perawatan kesehatan reproduksi 
Perawatan kesehatan reproduksi adalah suatu kumpulan metode, teknik, dan pelayanan yang mendukung kesehatan reproduksi dan kesejahteraan melalui pencegahan dan penanganan masalah-masalah kesehatan reproduksi mencakup perawatan kesehatan seksual yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan hubungan antar pribadi. Bukan hanya perihal konseling dan perawatan yang berhubungan dengan proses reproduksi dan penyakit menular secara seksual. 

Perawatan kesehatan reproduksi perlu dilaksanakan pada jenjang perawatan kesehatan primer yang mencakup berbagai pelayanan yang terkait satu sama lain yaitu sebagai berikut: 
  • Bimbingan dan pelaksanaan keluarga berencana, termasuk di dalamnya ialah pemberian pendidikan, komunikasi informasi, konseling dan pelayanan kontrasepsi. 
  • Pendidikan dan pelayanan prenatal. 
  • Penanganan proses kehamilan yang aman. 
  • Perawatan pasca natal khususnya pemberian ASI, perawatan kesehatan bayi, anak dan ibu. 
  • Pencegahan dan pengobatan yang memadai terhadap kemandulan (infertilitas). 
  • Penanganan masalah aborsi. 
  • Pengobatan infeksi saluran reproduksi. 
  • Penyakit yang ditularkan secara seksual termasuk penyakit HIV/AIDS dan kanker alat reproduksi. 
  • Informasi pendidikan dan konseling tentang seksualitas sesuai umur, termasuk pengetahuan reproduksi bagi remaja agar menjadi orang tua yang bertanggung jawab. 
D. Indikator kesehatan reproduksi 
Organisasi kesehatan dunia world health organization (WHO) telah membuat daftar indikator kesehatan reproduksi secara global yang meliputi sebagai berikut: 
  • Total fertility rate (TFR) 
  • Prevalensi kontrasepsi 
  • Rasio kematian ibu 
  • Persentase wanita yang berkunjung sekurang-kurangnya empat kali selama kehamilan ke pelayanan kesehatan sehubungan dengan kehamilan. 
  • Persentase kelahiran yang ditolong oleh tenaga ksehatan profesional 
  • Jumlah fasilitas yang berfungsi sebagai pelayanan obstetri esensial komprehensif per 500.000 penduduk. 
  • Angka kematian perinatal. 
  • Persentase kelahiran bayi hidup dengan berat lahir rendah. 
  • Prevalensi tes serologi positif pada ibu hamil yang berkunjung ke prenatal care. 
  • Persentase wanita usia reproduksi yang di skrining kadar hemoglobinnya untuk mendeteksi yang terkena anemia. 
  • Persentase tenaga obstetri dan ginekologi yang melakukan aborsi. 
  • Laporan prevalensi wanita dengan femmale genital mutilation. 
  • Persentase wanita usia reproduksi yang beresiko hamil yang dilaporkan mencoba untuk hamil 2 tahun atau lebih. Laporan insidensi uretritis pada pria (usia 15-49 tahun) dan prevalensi HIV pada wanita hamil. 
2. Kependudukan 
A. Pengertian Penduduk 
Yang dimaksud dengan penduduk adalah semua orang yang berdomisili diwilayah geografis republik Indonesia selama 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap (badan pusat statisktik, 2009). 
Penduduk atau warga negara suatu negara atau daerah bisa didefinisikan jadi dua: 
  • Orang yang tinggal didaerah tersebut. 
  • Orang yang secara hukum berhak tinggal didaerah tersebut. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi masih tinggal didaerah lain. 
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang mempunyai wilayah geografi dan ruang tertentu (wikipedia,2009). 

Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi didalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi dan penuaaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu. 

B. Dinamika kependudukan 
Dinamika kependudukan adalah perubahan penduduk. Manfaat dari memahami dinamika penduduk adalah: 
  • Mengetahui jumlah penduduk pada suatu waktu dan wilayah tertentu. 
  • Memahami perkembangan dari keadaan dahulu, sekarang dan perkiraan yang akan datang. 
  • Mempelajari hubungan sebab akibat keadaan penduduk dengan aspek kehidupan lain. 
  • Merancang antisipasi menghadapi perkembangan kependudukan yang terjadi baik hal yang menguntungkan maupun merugikan.  
Sumber:
Readmore »»

PENGERTIAN ISTILAH GENDER


Pengertian istilah-istilah jender yaitu: 
  1. Jender: adalah perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan dan laki-laki, yang dibentuk oleh budaya yang membentuk karakteristik sosial bagi perempuan dan laki-laki. Misalnya perempuan sebagai ibu rumah tangga, dan laki-laki sebagai pencari nafkah dibentuk oleh budaya. Gender timbul sebagai akibat konstruksi sosial sehingga dapat berbeda antara satu budaya dengan budaya lain dan dari waktu ke waktu. 
  2. Jenis kelamin adalah ciri biologis-anatomis, khususnya dalam sistem reproduksi dan hormonal, yang diikuti oleh karakteristik fisiologis tubuh yang membedakan seseorang itu adalah laki-laki atau perempuan. Ciri-ciri biologis ini bersifat menetap dan tidak dapat diubah. 
  3. Kesetaraan jender: yaitu keadaan tanpa diskriminasi sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin dalam memperoleh kesempatan, pembagian sumber-sumber dan hasil pembangunan dan akses terhadap pelayanan. 
  4. Keadilan jender adalah gambaran keseimbangan yang adil dalam pembagian beban tanggung jawab dan manfaat antara laki-laki dan perempuan berdasarkan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kebutuhan dan kekuasaan yang berbeda. Perbedaan kebutuhan dan kekuasaan ini perlu dikenali untuk dijadikan sebagai dasar penerapan perlakuan yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. 
  5. Peran jender adalah peran ekonomi dan sosial yang dipandang layak oleh masyarakat untuk diberikan kepada laki-laki atau perempuan. Misalnya, laki-laki diberi peran sebagai pencari nafkah, sedangkan perempuan bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga. 
  6. Bias jender adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya keberpihakan kepada laki-laki daripada kepada perempuan. Misalnya produk hukum yang lebih memihak kepada laki-laki sehingga merugikan perempuan. Seperti pada kasus aborsi ilegal, pihak perempuan mendapat hukuman karena tindakan aborsinya, sementara laki-laki yang menyebabkan perempuan hamil bebas dari tuntukan masyarakat dan produk hukum itu sendiri.
  7. Streotipi jender adalah pandangan yang menganggap sesuai dan biasa untuk jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Misalnya, laki-laki bekerja di kantor sementara perempuan bekerja di dapur. 
  8. Patriarki adalah keadaan di masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
Readmore »»

Rabu, 29 Oktober 2014

SEJARAH PERKEMBANGAN GENDER DI INDONESIA


Istilah gender dikemukakan oleh para ilmuan social dengan maksud untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang memiliki sifat bawaan (ciptaan tuhan) dan bentuk budaya (konstruksi social). Seringkali orang mencampuradukan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati (tidak berubah) dengan yang bersifat nonkodrati (gender) yang bias berubah dan diubah. Perbedaan gender ini juga menjadikan orang berpikir kembali tentang pembagian peran yang dianggap melekat, baik pada perempuan maupun laki-laki.  

Gender berasal dari bahasa inggris yang diartikan sebagai perbedaan peranan antara pria dengan wanita yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan norma sosial dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. 

Gender menurut menneg pemberdayaan perempuan, BKKBN, unfpa (2001) adalah perbedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara laki-laki da perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksi oleh masyarakat serta dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman akibat konstruksi sosial. Sejarah pergerakan wanita biasanya dibahas dengan meneropong perkembangan kongres wanita indonesia (kowani) karena, badan federasi ini telah berlangsung lama dan mencangkup organisasi dan beraneka warna dan mempunyai dokumentasi yang cukup lengkap yang mencerminkan pasang surut pergerakan wanita sejalan dengan kehidupan masyarakat umumnya. Dalam perkumpulan yang tergabung dalam federasi, banyak juga perkumpulan yang tergabung karena belum mencukupi syarat menjadi anggota baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pertumbuhan organisasi ini juga merupakan perkembangan pergerakan wanita di indonesia. 

Pergerakan wanita itu sendiri menunjukan beberapa nilai utama yakni; 
1. Persatuan 
2. Emansipasi wanita bedasarkan prikemanusiaan 
3. Dan, kebangsaan 

1) Periode 1912-1928 (organisasi wanita pertama “poetri mardika” sampai diselenggarakan kongres perempuan di indonesia yang pertama). 
Masa ini ditandai oleh apa yang dinamakan kebangkitan nasional dalam arti bahwa kesadaran bangsa pribumi yang berada di bawah penjajahan asing harus meengadakan persatuan-persatuan dikalangan sendiri untuk meningkatkan derajatnya. Dalam kalangan wanita periode ini merupakan periode pemupukan kesadaran untuk secara berorganisasi mengadakan usaha-usaha memajukan wanita. Yang timbul dari kesadaran dari kalangan kaum wanita itu sendiri (terutama dari kalangan guru wanita yang merasa cenderung untuk membaktikan tenaganya diluar sekolah) dari organisasi masa dan partai politik, agama maupun sekuler. Dan organisasi pemuda nasionalis mendirikan seksi wanita nya seperti jong java maisjeskring (1915), “damesafdeeling jong islamietenbond- jibda (1925). Organisasi ini bersifat umum dan sukarela dalam arti bahwa kaum wanita pada umumnya asal memenuhi syarat umur dan kewarganegaraan dan menyetujui tujuan organisasi dapat menjadi anggota. Kegiatan pemupukan kegiatan kesadaran mengenai kemajuan wanita dan bangsa dilakukan lewat pertemuan lain serta majalah organisasi. Usaha lain yang penting dilakukan dari perkumpulan di bidang pendidikan atau organisasi tersebut memulainya mendirikannya sekolah-sekolah dan baru kemudian merupakan organisasi dengan anggota-anggotanya juga dari permulaan di usahakan membantu murid-murid wanita dengan memberi beasiswa. Usaha memajukan bangsa berupa memberi penerangan kepada rakyat di bidang kesehatan. 

2) Periode 1928-1942 (terselenggaranya kongres perempuan indonesia yang pertama, sampai kependudukan jepang). 
Masa ini ditandai semangat persatuan nasional pergerakan pemuda dan pergerakan nasional. Pada umumnya memuncak yang nampak pada sumpah pemuda 28 oktober 1928: satu tanah air satu bangsa satu bahasa persatuan. Perkumpulan-perkumpulan jong java, pemuda indonesia, jong celebes, dan sekar rukun. Meleburkan diri dalam perkumpulan indonesia muda maka lahirlah keputrian indonesia pada akhir desember 1931 sebagai bagian dari indonesia muda. 

Berikut ini adalah federasi-federasi yang ada pada periode 1928-1942, diantaranya; 
  • Istri budi sejati di jember 
  • Istri jauhari di pasuruan 
  • Krida wanita di ngawi 
  • Margining koentamang di jakarta 
  • Panti krida wanita di pekalongan 
  • Roekoen wanita di jakarta 
  • Roenkoen wanodeyo di jakarta 
  • Wanita sedijamoelja di mataram 
  • Wanita sedijarahajoe di mataram 
3) Periode 1942-1945 (yaitu pada jaman kedudukan jepang sampai proklamasi indonesia) 
Dalam zaman kedudukan tentara asing ini semua perkumpulan dilarang kecuali kelompok-kelompok yang membantu jepang yang memenangkan peperangan untuk membentuk asia timur raya. Diantara kelompok-kelompok itu yang didirikan oleh penguasa jepang ialah “fuzinkai” (perkumpulan wanita). Tugas pokok dari fuzinkai adalah membantu garis dengan membantu garis depan dan memperkuat garis belakang. Bantuan pada garis depan berupa latihan pekerjaan palang merah, penggunaan senjata, penyelenggaraan dapur umum, pembuatan kaos kaki untuk prajurit dan segala sesuatu yanhg berhubungan dengan perang. Sedangkan usaha memperkuat garis belakang menanam kapas untuk menambah bahan pakaian, mengurus tanaman, dan hemwan untuk menambah bahan makanan. Sifat dari fuzinkai adalah diharuskan, terutama dikalangan istri pamong praja. Istri-istri pamong praja dari tingkat atas sampai ke kecamatan-kecamatan diharuskan ikut serta, sedangkan struktur fuzinkai disesuaikan dengan struktur pemerintahan. Jadi istri bupati atau camat harus memegang peranan sebagai pemimpin meskipun ia barang kali belum pernah duduk dalam organisasi. 

Sumber: 
Indriyani, D, 2014, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Ar-Ruzz Media : Yogyakarta 
Kumalasari, I, 2012, Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan, Salemba Medika : Jakarta 
Yustina, I, 2007, Pemahaman Keluarga Tentang Kesehatan Reproduksi, Pustaka Bangsa Press : Medan
Readmore »»

ASUHAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA


A. Asuhan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja 

Pengertian Remaja 
Remaja dalam ilmu psikologi diperkenalkan denagn istilah lain, seperti puberteit, adolescence, dan youth. Remaja atau adolescence (Inggris), berasal dari bahasa Latin “adolescence” yang berarti tumbuh kearah pematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan kematangan fisik saja tetapi juga kematangan social dan psikologi.  

Menurut WHO, masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, di mana pada masa itu terjadi pertumbuhan yang pesat termasuk fungsi reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan-perubahan perkembangan, baik fisik, mental, maupun peran sosial. Pieget (1991) menyatakan bahwa secara psikologis remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar. Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat (Asmuji, 2014). 

Batasan Usia Remaja 
Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Ditinjau dari bidang kesehatan WHO, masalah yang dirasakan paling mendesak berkaitan dengan kesehatan remaja adalah kehamilan dini. Berangkat dari masalah pokok ini, WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Dengan demikian dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan belum kawin. Sementara itu, BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10-21 tahun. 

Tiga hal yang menjadikan masa remaja penting sekali bagi kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut. 
  1. Masa remaja (usia 10-19 tahun) merupakan masa yang khusus dan penting karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas.  
  2. Masa remaja terjadi perubahan fisik (organobiologis) secara cepat yang tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan (mental-emosional). Perubahan yang cukup besar ini dapat membingungkan remaja yang mengalaminya, karena itu perlu pengertian, bimbingan, dan dukungan lingkungan di sekitarnya agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat, baik jasmani, mental, maupun psikososial.  
  3. Dalam lingkungan sosial tertentu, sering terjadi perbedaan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan wanita. Bagi laki-laki, masa remaja merupakan saat diperolehnya kebebasan, sedangkan untuk remaja wanita merupakan saat dimulainya segala bentuk pembatasan (pada zaman dulu gadis mulai dipingit ketika mereka mulai mengalami menstruasi). Walaupun dewasa ini praktik seperti itu telah jarang dilakukan, namun perbedaan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan wanita ini dapat menempatkan remaja wanita dalam posisi yang dirugikan. Kesetaraan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan wanita diperlukan dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja agar masalahnya dapat ditangani secara tuntas. 
Karakteristik Remaja Berdasarkan Umur 
Karakteristik remaja berdasarkan umur adalah berikut ini. 
1. Masa remaja awal (10-12 tahun) 
  • Lebih dekat dengan teman sebaya. 
  • Ingin bebas. 
  • Lebih banyak memperlihatkan keadaan tubuhnya. 
  • Mulai berpikir abstrak. 
2. Masa remaja pertengahan (13-15 tahun) 
  • Mencari identitas diri. 
  • Timbul keinginan untuk berkencan. 
  • Mempunyai rasa cinta yang mendalam. 
  • Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak. 
  • Berkhayal tentang aktivitas seks. 
3. Remaja akhir (17-21 tahun) 
  • Pengungkapan kebebasan diri. 
  • Lebih selektif dalam mencari teman sebaya. 
  • Mempunyai citra tubuh (body image) terhadap dirinya sendiri. 
  • Dapat mewujudkan rasa cinta. 
Perkembangan Remaja dan Tugasnya 
Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya seorang individu, dari masa anak-anak sampai dewasa, individu memiliki tugas masing-masing pada setiap tahap perkembangannya. Tugas yang dimaksud pada setiap tahap perkembangan adalah setiap tahapan usia, individu tersebut mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap, dan fungsi tertentu sesuai dengan kebutuhan pribadi. Kebutuhan pribadi itu sendiri muncul dari dalam diri yang dirangsang oleh kondisi di sekitarnya atau masyarakat. Tugas perkembangan remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilakku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. 

Adapun tugas perkembangan remaja Hurlock (1991) adalah sebagai berikut. 
  1. Mampu menerima keadaan fisiknya. 
  2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa. 
  3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis. 
  4. Mencapai kemandirian ekonomi. Remaja merasa sanggup untuk hidup berdasarkan usaha sendiri.Ini terutama sangat penting bagi laki-laki. Akan tetapi dewasa ini bagi kaum wanita pun tugas ini berangsur-angsur menjadi semakin penting. 
  5. Mencapai kemandirian emosional. 
  6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat. 
  7. Memahami dan menginternalisasi nilai-nilai orang dewasa dan orang tua. 
  8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa. 
  9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan. 
  10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga. 
Tumbuh Kembang Remaja 
Pengertian tumbuh kembang adalah pertumbuhan fisik atau tubuh dan perkembangan kejiwaan/psikologis/emosi. Tumbuh kembang remaja merupakan proses atau tahap perubahan atau transisi dari masa kanak-kanak menjadi masa dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, di antaranya adalah sebagai berikut. 
1. Perubahan fisik meliputi perubahan yang bersifat badaniah, baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak dilihat. 
2. Perubahan emosional yang tercermin dari sikap dan tingkah laku. 
3. Perkembangan kepribadian dimana masa ini tidak hanya dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungan keluarga tetapi juga lingkungan luar sekolah. 

Perubahan Fisik pada Masa Remaja 
Masa remaja terjadi ketika seseorang mengalami perubahan struktur tubuh dari anak-anak menjadi dewasa (pubertas). Pada masa ini terjadi suatu perubahan fisik yang cepat disertai banyak perubahan, termasuk di dalamnya pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan yang ditunjukkan dengan kemampuan melaksanakan fungsi reproduksi. 

Perubahan yang terjadi pada pertumbuhan tersebut diikuti munculnya tanda-tanda sebagai berikut. 
1. Tanda-tanda seks primer 
Tanda-tanda seks primer yang dimaksud adalah yang berhubungan langsung dengan organ seks. Reproduksi remaja disebutkan bahwa ciri-ciri seks primer pada remaja adalah sebagai berikut. 
a. Remaja laki-laki 
Remaja laki-laki sudah bisa melakukan fungsi reproduksi bila telah mengalami mimpi basah. Mimpi basah biasanya terjadi pada remaja laki-laki usia antara 10-15 tahun. Mimpi basah sebetulnya merupakan salah satu cara tubuh laki-laki ejakulasi. Ejakulasi terjadi karena sperma yang terus menerus diproduksi perlu dikeluarkan. Ini adalah pengalaman yang normal bagi semua remaja laki-laki. 
b. Remaja wanita 
Pada remaja wanita sebagai tanda kematangan organ reproduksi adalah ditandai dengan datangnya menstruasi (menarche). Menstruasi adalah proses peluruhan dalam atau endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Hal ini berlangsung terus sampai menjelang masa menopause yaitu ketika seorang berumur sekitar 40-50 tahun. 

2. Tanda-tanda seks sekunder 
Ciri-ciri seks sekunder pada masa remaja adalah sebagai berikut. 
a. Remaja laki-laki 
  • Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, tangan dan kaki bertambah besar. 
  • Bahu melebar, pundak serta dada bertambah besar dan membidang, pinggul menyempit.
  • Pertumbuhan rambut di sekitar alat kelamin, ketiak, dada, taangan, dan kaki. 
  • Tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi. 
  • Tumbuh jakun, suara menjadi besar. 
  • Penis dan buah zakar membesar. 
  • Kulit menjadi lebih kasar dan tebal dan berminyak 
  • Produksi keringat menjadi lebih banyak. 
b. Remaja wanita 
  • Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, tangan dan kaki bertambah besar. 
  • Pinggul lebar, bulat dan membesar. 
  • Tumbuh bulu-bulu halus di sekitar ketiak dan vagina. 
  • Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar. 
  • Pertumbuhan payudara, puting susu membesar dan menonjol, serta kelenjar susu berkembang, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat. 
  • Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat, lubang pori-pori bertambah besar, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. 
  • Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada pertengahan dan menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu,lengan dan tungkai. 
  • Suara menjadi lebih penuh dan semakin merdu. 
Perkembangan Psikologis Pada Remaja 
a. Perkembangan Psikososial 
Pada usia 12-15 Tahun, pencarian identitas diri masih berada pada tahap permulaan. Dimulai pada pengukuhan kemampuan yang sering diungkapkan dalam bentuk kemauan yang tidak dapat dikompromikan sehingga mungkin berlawanan dengan kemauan orang lain. Bila kemauan itu ditentang, mereka akan memaksa agar kemauannya dipenuhi. Ini merupakan bentuk awal dari pencarian “AKU” yang dapat menjadi masalah bagi lingkungannya. Penyesuaian terhadap lingkungan baru akan dapat menjadi masalah bagi remaja karena meninggalkan dunia anak-anak berarti memasuki dunia baru yang penuh dengan tuntutan-tuntutan baru. Bila tidak mungkin memasuki dunia barunya, sering timbul perasaan-perasaan tidak mampu yang mendalam. Akibat perkembangan kelenjar kelamin remaja, mulai timbul perhatian pada remaja terhadap lawan jenisnya. Bahkan hal ini merupakan tanda yang khas bahwa remaja sudah dimulai. 

Proses percintaan remaja dimulai dari tahap-tahap berikut. 
1) Crush 
Ditandai oleh adanya saling membenci antara anak laki-laki dan perempuan. Penyaluran cinta pada saat ini adalah memuja orang yang lebih tua atau sejenis, bentukya misalnya memuja pahlawan dalam cerita film. 
2) Hero-worshiping 
Mempunyai persamaan dengan crush, yaitu pemujaan terhadap orang yang lebih tua tetapi yang berlawanan. Kadang yang dikagumi tidak juga dikenal. 
3) Boy crazy dan girl crazy 
Pada masa ini kasih sayang remaja ditujukan kepada teman-teman sebaya, kadang saling perhatian antara anak laki-laki dengan anak perempuan. 
4) Puppy Love (Cinta Monyet) 
Cinta remaja sudah mulai tertuju pada suatu orang, tetapi sifanya belum stabil sehingga kadang-kadang masih ganti-ganti pasangan. 
5) Romantic Love 
Cinta remaja menemukan sasarannya dan percinyaannya sudah stabil dan tidak jarang berakhir dengan perkawinan. 

b. Emosi 
Emosi adalah perasaan yang mendalam yang biasanya menimbulkan perbuatan atau perilaku. Perasaan dapat dipakai berkaitan dengan keadaan fisik atau psikis, sedangkan emosi hanya dipakai untuk keadaan psikis. Pada masa remaja, kepekaan emosi menjadi meningkat sehingga rangsangan sedikit saja sudah menimbulkan luapan emosi yang besar. 

c. Perkembangan Kecerdasan 
Dalam masa remaja, perkembangan inlegensi masih berlangsung sampai usia 21 tahun. Berdasarkan perkembangan intelegensi ini, remaja lebih suka belajar sesuatu yang mengandung logika yang dapat dimengerti hubungan antara hal yang satu dengan yang lainnya. Imajinasi remaja juga menunjukkan kemajuan. Hal ini banyak ditandai dengan prestasi yang dicapai remaja. 

Tantangan Dan Masalah Remaja 
Masalah penting yang dihadapi oleh remaja cukup banyak, di antaranya timbulnya berbagai konflik dalam diri remaja. 
  1. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dengan kebutuhan untuk bebas dan merdeka. Remaja membutuhkan penerimaan sosial dan penghargaan serta kepercayaan orang lain kepadanya. Di pihak lain, dia membutuhkan rasa bebas karena merasa telah besar, dewasa dan tidak kecil lagi. Konflik antar kebutuhan tersebut menyebabkan rusaknya keseimbangan emosi remaja. 
  2. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan ketergantungan terhadap orang tua. Di pihak lain remaja ingin bebas dan mandiri, yang diperlukannya dalam mencapai kematangan fisik, tetapi membutuhkan orang tua dalam memberikan materi guna menunjang studi dan penyesuaian sosialnya. Konflik tersebut menimbulkan kegoncangan kejiwaan pada remaja sehingga mendorongnya mencari pengganti selain orang tuanya, biasanya teman, guru, atau pun orang dewasa lainnya dari lingkungannya. 
  3. Konflik antara kebutuhan seks dan ketentuan agama serta nilai social. Kematangan seks yang terjadi pada remaja menyebabkan terjadinya kebutuhan seks yang mendesak, tetapi ajaran agama dan nilai-nilai sosial menghalangi pemuasan kebutuhan tersebut. Konflik tersebut bertambah tajam apabila remaja dihadapkan pada cara ataupun perilaku tajam yang menumbuhkan rangsangan seks, seperti film, sandiwara dan gambar. 
  4. Konflik nilai-nilai, yaitu konflik antara prinsip-prinsip yang dipelajari oleh remaja dengan prinsip dan nilai yang dilakukan orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari. 
  5. Konflik menghadapi masa depan. Konflik ini disebabkan oleh kebutuhan untuk menentukan masa depan. Banyak remaja yang tidak tahu tentang hari depan dan tidak tahu gambarannya. Biasanya pilihan remaja didasarkan atas pilihan orangtua atau pekerjaan yang populer di masyarakat. 
Perilaku Seks Bebas Di Kalangan Remaja 
1. Pengertian Seks Bebas Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin. Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka atau dalam dunia prosituisi. 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seks Bebas 
a. Faktor Umum 
Latar belakang terjadinya perilaku seks bebas pada umumnya dipengaruhi oleh beberpa faktor, sebagai berikut. 
  1. Gagalnya sosialisasi norma-norma dalam keluarga, terutama keyakinan agama dan moralitas. 
  2. Semakin terbukanya peluang pergaulan bebas setara dengan kuantitas pengetahuan sosial dengan kelompok pertemanan.
  3. Kekosongan aktivitas-aktivitas fisik dan rasio dalam kehidupan sehari-hari. 
  4. Sensitivitas penyerapan dan penghayatan terhadap struktur pergaulan dan seks bebas relative tinggi. 
  5. Rendahnya konsistensi pewarisan contoh perilaku tokoh-tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga sosial yang berwenang. 
  6. Rendahnya kepedulian dan control social masyarakat 
  7. Adanya kemudahan dalam mengantisipasi resiko kehamilan 
  8. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan dan resiko penyakit berbahaya 
  9. Sikap perilaku dan busana yang mengundang desakan seks 
  10. Kesepaian, berpisah dengan pasangan terlalu lama, atau karena keinginan untuk menikmati sensasi seks di luar rutinitas rumah tangga. 
  11. Tersedianya lokalisasi atau legalitas pekerja seks. 
b. Faktor Internal 
Faktor internal yang mempengaruhi adanya perilaku seks bebas, yaitu sebagai berikut. 
  1. Krisis Identitas Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. 
  2. Kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitu pula bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, tetapi tidak bisa mengembangkan control diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. 
c. Faktor Eksternal 
Faktor eksternal munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja sebagai berikut. 
  1. Keluarga Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar-anggota kelurga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negative pada remaja. Pendidikan yang salah dikeluarga, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
  2. Teman sebaya yang kurang baik 
  3. Komunikasi/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Hal-hal di atas merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku remaja melakukan hubungan seks pranikah atau melakukan tindakan-tindakan kenakalan remaja yang sangat bervariasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab adanya perilaku seks bebas di kalangan remaja cukup kompleks dan sangat luas, yang meliputi kurangnya kasih sayang orangtua, kurangnya pengawasan dari orangtua, pergaulan dengan teman yang tidak sebaya. Selain itu, juga peran dari perkembangan iptek yang berdampak negative, tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah, dasar-dasar agama yang kurang, tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya yang berlebihan dan masalah yang dipendam. 
Pengaruh Buruk Akibat Hubungan Seks Bebas Bagi Remaja 
Kematangan organ seks dapat berpengaruh buruk bila remaja tidak mampu mengendalikan rangsangan seksualnya, sehingga tergoda untuk melakukan hubungan seks pranikah. Hal ini akan menimbulkan akibat yang dapat dirasakan bukan saja oleh pasangan, khususnya remaja putri, tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan masyarakat. 

Berikut adalah akibat hubungan seks pranikah. 
1. Bagi remaja 
  • Remaja laki-laki menjadi tidak perjaka, wanita menjadi tidak perawan 
  • Resiko tertular penyakit menular seksual (PMS) meningkat, seperti gonore, sifilis, herpes simpleks (genitalis), klamidia, kondiloma akuminata, dan HIV dan AIDS 
  • Remaja putri terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran kandungan yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, anemia, kemandulan, dan kematian karena perdarahan atau keracunan kehamilan. 
  • Trauma kejiwaan (depresi, rendah diri, merasa berdosa, dan hilang harapan masa depan). 
  • Kemungkinan hilang kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan bekerja 
  • Melahirkan bayi yang kurang/tidak sehat 
2. Bagi keluarga 
  • Menimbulkan aib keluarga 
  • Menambah beban ekonomi 
  • Memengaruhi kejiwaan bagi anak karena adanya tekanan (ejekan) dari masyarakat. 
3. Bagi masyarakat 
  • Meningkatkan remaja putus sekolah, sehingga kualitas masyarakat menurun 
  • Meningkatkan angka kematian ibu dan bayi 
  • Meningkatkan beban ekonomi masyarakat sehingga derajat kesehatan masyarakat menurun.
Upaya Penanggulangan Seks Bebas di Kalangan Remaja 
Seks bebas yang terjadi di kalangan remaja sudah sangat meresahkan. Perilaku seks bebas dapat dicegah melalui keluarga. Orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya, apalagi anak yangg sedang beranjak dewasa. Selain itu, orang tua juga memberi pengertian tentang seks dan apa akibatnya jika dilakukan kepada anak. Seks bebas juga dapat dicegah melalui keinginan diri sendiri. Remaja harus lebih memikirkan akibat sebelum berbuat atau paling tidak remaja lebih meningkatkan keimanan pada Tuhan. Pihak sekolah juga sangat berperan dalam usaha penanggulangan seks bebas dikalangan remaja, seperti mengadakan penyuluhan di sekolah tentang bahaya seks bebas. Para remaja dilarang berdua-duaan disekitar lingkungan sekolah yang sepi, tidak diperbolehkan melihat video porno, serta memberikan sanksi bagi anak-anak yang melakukan pelanggaran (Ninik, 2007). 

Kesehatan Reprodukasi Remaja 
Kesehatan reproduksi remaja menurut Adji (2003) adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat di sini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan, tetapi juga sehat secara mental serta sosial kultural. Kesehatan reproduksi remaja sulit dipisahkan dari kesehatan remaja secara keseluruhan, karena gangguan kesehatan remaja akan menimbulkan gangguan pula pada sistem reproduksi. 

Berikut adalah beberapa keadaan yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan remaja termasuk kesehatan reproduksi remaja. 
1. Masalah gizi buruk 
  • Anemia dan kurang energi kronis (KEK) 
  • Pertumbuhan yang terhambat pada remaja putri, sehingga mengakibatkan panggul sempit dan beresiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dikemudian hari 
2. Masalah pendidikan 
  • Buta huruf yang mengakibatkan remaja tidak mempunyai akses informasi yang dibutuhkannya serta kurang mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kesehatan dirinya. 
  • Pendidikan rendah dapat mengakibatkan remaja kurang mampu memenuhi kebutuhan fisik dasar ketika berkeluarga, dan hal ini akan berpengaruh buruk terhadap derajat kesehatan diri dan keluarganya. 
3. Masalah lingkungan dan pekerjaan 
  • Lingkungan dan suasana kerja yang kurang memperhatikan kesehatan remaja yang bekerja sehingga akan mengganggu kesehatan remaja. 
  • Lingkungan sosial yang kurang sehat dapat menghambat, bahkan merusak kesehatan fisik, mental dan emosional remaja. 
4. Masalah seks dan seksualitas 
  • Pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak tepat tentang masalah seksualitas, misalnya mitos yang tidak benar. 
  • Kurang bimbingan untuk bersikap positif dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas. 
  • Penyalahgunaan dan ketergantungan napza yang mengarah kepada penularan HIV dan AIDS melalui jarum suntik dan hubungan seks bebas yang dewasa ini semakin mengkhawatirkan. 
  • Penyalahgunaan seksual 
  • Kehamilan remaja 
  • Kehamilan pranikah/diluar ikatan pernikahan 
5. Masalah perkawinan dan kehamilan dini 
  • Ketidakmatangan secara fisik dan mental 
  • Resiko komplikasi dan kematian ibu dan bayi lebih besar 
  • Kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri 
  • Resiko untuk melakukan aborsi yang tidak aman 
Alasan Remaja Mengetahui Kesehatan Reproduksi 
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku hidup sehat bagi remaja, disamping juga untuk mengatasi masalah yang ada. Dengan pengetahuan yang memadai dan adanya motivasi untuk menjalani masa remaja secara sehat, para remaja diharapkanmampu memelihara kesehatan dirinya agar dapat memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan sistem reproduksi yang sehat. 

Pengetahuan Dasar Remaja Agar Kesehatan Reproduksi Optimal 
Pengetahuan dasar remaja agar optimal meurut Adjie(2003) remaja perlu mengetahui tentang hal-hal berikut. 
  1. Pengenalan mengenai sistem, proses, dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja).  
  2. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merecanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya  
  3. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi.  
  4. Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi.  
  5. Pengaruh sosial dan media terhadap prilaku seksual.  
  6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindariya.  
  7. Mengembangkan kemampuan komuikasi berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif.  
  8. Hak-hak reproduksi. 
B. Melibatkan Wanita Dalam Pengambilan Keputusan 
Arti pengambilan keputusan 
Dalam menjalanikehidupan, manusia pada hakekatnya selalu membuat keputusan. Pengambilan keputusan menjadi bagian integral dari kehidupan manusia sehari – hari, untuk menemukan hal – hal yang terbaik bagi kelangsungan hidupnya. Emory dan Nilan (Harrison,1992) mengatakan pengambilan keputusan menunjukan pada aktivitas seleksi dan komitmen. Pembuat keputusan memilih tujuan – tujuan yang disukai, peryataan yang paling masuk akal, jalan yang masih baik. Ellion (Harrison,1992) mengindikasikan bahwa pengambilan keputusan, adalah orang yang bertindak sebagai pengambil keputusan, melakukan perbandingan atas alternatif, termaksuk melakukan evaluasi terhadap manfaatnya. Kebanyakan dari pengambilan keputusan yang dilakukan individual berhubungan dengan penyelesaian masalah pribadi, pekerjaan atau masalah sosial. Dalam kehidupan sehari – hari pada masa remaja melakukan pengambilan keputusan merupakan hal yang sulit dalam penetapanya karena di usia inilah baru belajar untuk pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan kesehatan reproduksi .berbeda dengan seseorang yang sudah matang berdasarkan usia dan pengalaman dalam pengambilan keputusan akan lebih mudah dilakukan diakibatkan sudah mengetahui resiko pengambilan keputusan tersebut. 

Faktor – faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kesehatan reproduksi dalam pengambilan keputusan.
  1. Pendidikan Pendidikan merupakan aspek yang sangat pentinga dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Menurut Todaro, 1999. Rendahnya tingkat pendidikan perempuan turut menjadi penghambat pengambilan keputusan serta pembangunan ekonomi, yang berarti memperburuk kesejahteraan sosial. Data empiris telah banyak yang menunjukan bahwa pendidikan memiliki hubungan erat dengan fertilitas. Semakin baik tingkat pendidikan yang diterima kaum perempuan, maka tingkat fertilitas (atau kecenderungan untuk mempunyai anak) akan semakin rendah. Pendidikan dengan demikian menjadi elemen kunci untuk menghancurkan lingkungan yang tidak baik meliputi kesehatan anak yang buruk , kinerja pendidik yang rendah, pendapatan yang minim, tingkat fertilitas yang tinggi, serta tingkat kematian bayi. Tingkat pendidikan ibu yang semakin baik diyakini mempengaruhi sumber kualitas sumber daya manusia selama beberapa generasi mendatang. 
  2. Tingkat Ekonomi.  Tingkat ekonomi dalam praktiknya sangat nyata bahwa dalam mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kesehatan reproduksi. Hal ini tampak nyata khususnya pada saat terjadinya krisis moneter di indonesia, yang kemudian menjadi krisis multi-dimensi yang berkepanjangan hingga saat ini. Krisis mobeter secara nyata berpengaruh kepada merendahnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok pangan. 
  3. Budaya Patriaki.  Masyarakat Indonesia pada umumnya masih di warnai budaya patriaki, yakni sistem sosial budaya yang dalam tatanan keluarga merupakan unit terkecil masyarakat, laki – laki mendominasi keputusan – keputusan penting. Hasim, 2001. Mengatakan bahwa patriaki adalah sebuah aturan kehidupan yang hanya disandarkan kepada nilai – nilai yang berkembang dilingkuangan bapak – bapak (laki – laki), sesuai dengan makna kata patriaki. Sistem ini membuat tidak berdaya tidak memiliki “kekuasaan” untuk menolak sesuatu yang menjadi keputusan laki – laki . Koentjaraningrat, 1984, memberi contoh sistem sosial patriaki yang kuat di Indonesia, yakni suku batak toba. Suku ini sangat dikenal dengan sistem patrialineal (menurut garis ayah) yang terkuat di indonesia. 

Sumber:
Indriyani, D, 2014, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Ar-Ruzz Media : Yogyakarta 
Kumalasari, I, 2012, Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan, 
Salemba Medika : Jakarta Yustina, I, 2007, Pemahaman Keluarga Tentang Kesehatan Reproduksi, Pustaka Bangsa Press : Medan
Readmore »»

Jumat, 24 Oktober 2014

KONSEP KESEHATAN REPRODUKSI


A. DEFINISI KESEHATAN REPRODUKSI
Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan/ICPD (International Conference on Population and Development), di Kairo Mesir tahun 1994 diikuti 180 negara menyepakati perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas/keluarga berencana menjadi pendekatan yang terfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Tahun 1995 Konferensi sedunia IV tentang wanita dilaksanakan di Beijing, Cina, di Haquue 1999, di New York tahun 2000 menyepakati antara lain Definisi kesehatan reproduksi : suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. 

B. RUANG LINGKUP KESEHATAN REPRODUKSI DALAM SIKLUS KEHIDUPAN 
Ruang lingkup kesehatan reproduksi mencakup keseluruhan kehidupan manusia sejak lahir sampai mati. Pelaksanaan kesehatan reproduksi menggunakan pendekatan siklus hidup (life cycle approach) agar di peroleh sasaran yang pasti dan komponen pelayanan yang jelas serta dilaksanakan secara terpadu dan berkualitas dengan memperhatikan hak reproduksi perorangan dengan bertumpu pada program pelayanan yang tersedia. 

Dalam pendekatan siklus hidup di kenal lima tahap,beberapa pelayanan kesehatan reproduksi dapat di berikan pada tiap tahapan berikut ini. 
  1. Konsepsi: a. Perlakukan sama terhadap janin laki-laki atau perempuan b. Palayanan antenatal, persalinan, dan nifas yang aman serta pelayanan bayi baru lahir 
  2. Bayi dan Anak: a. ASI eksklusif dan penyapihan yang layak b. Tumbuh kembang anak dan pemberian makanan dengan gizi seimbang c. Imunisasi, manajemen terpadu balita sakit (MTBS) dan manajemen terpadu bayi muda (MTBM) d. Pencegahan dan penanggulangan kekerasan e. Pendidikan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang sama pada laki-laki dan perempuan 
  3. Remaja: a. Gizi seimbang b. Informasi tentang kesehatan reproduksi c. Pencegahan kekerasan sosial d. Pencegahan terhadap ketergantungan narkotik, psikotropika, dan zat adiktif e. Perkawinan pada usia yang wajar f. Pendidikan dan peningkatan keterampilan g. Peningkatan penghargaan diri h. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman 
  4. Usia Subur:  a. Kehamilan dan persalinan yang aman b. Pencegahan kecacatan da kematian akibat kehamilan akibat kehamilan pada ibu dan bayi c. Menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan kontrasepsi atau KB d. Pencegahan erhadap PMS atau HIV/AIDS e. Pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas f. Pencegahan penanggulangan masalah aborsi secara rasional g. Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim h. Pencegahan dan manajemen infertilitas 
  5. Usia Lanjut: a. Perhatian terhadap menopause/andropause b. Perhatian penyakit utama degeneratif termasuk rabun, gangguan morbilin dan esteoporosis c. Deteksi dini kanker rahim dan kanker prostat 
Secara luas, ruang lingkup kesehatan reproduksi meliputi : 
  1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir. 
  2. Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) termasuk PMS HIV / AIDS. 3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi. 4. Kesehatan reproduksi remaja. 5. Pencegahan dan penanganan infertilitas. 6. Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis. 7. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi genital, fistula, dll. Kesehatan reproduksi ibu dan bayi baru lahir meliputi perkembangan berbagai organ reproduksi mulai dari sejak kandungan, bayi, remaja, wanita usia subur, klimakterium, menopause hingga meninggal. Kondisi kesehatan seorang ibu hamil mempengaruhi pada kondisi bayi yang dilahirkannya, termasuk didalamnya kondisi kesehatan organ-organ reproduksi bayinya. Permasalahan kesehatan reproduksi remaja termasuk pada saat pertama anak perempuan mengalami haid/menarche yang bisa beresiko timbulnya anemia, perilaku seksual yang mana bila kurang pengetahuan dapat tertular penyakit hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS. Selain itu juga menyangkut kehidupan remaja memasuki masa perkawinan. Remaja yang menginjak masa dewasa bila kurang pengetahuan dapat mengakibatkan risiko kehamilan muda yang mana mempunyai risiko terhadap kesehatan ibu hamil dan janinnya. Selain hal tersebut di atas, ICPD juga menyebutkan bahwa kesehatan reproduksi juga mengimplikasikan seseorang berhak atas kehidupan seksual yang memuaskan dan aman. Seseorang berhak terbebas dari kemungkinan tertulari penyakit infeksi menular seksual yang bisa berpengaruh pada fungsi organ reproduksi, dan terbebas dari paksaan. Hubungan seksual dilakukan dengan memahami dan sesuai etika dan budaya yang berlaku. 

Penerapan pelayanan kesehatan reproduksi oleh Departemen Kesehatan RI dilaksanakan secara integratif memprioritaskan pada empat komponen kesehatan reproduksi yang menjadi masalah pokok di Indonesia yang disebut paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE), yaitu: 
  1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir. 
  2. Keluarga berencana. 
  3. Kesehatan reproduksi remaja. 
  4. Pencegahan dan penanganan infeksi saluran reproduksi, termasuk HIV/AIDS. 
Sedangkan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK) terdiri dari PKRE ditambah kesehatan reproduksi pada usia lanjut. 
C. HAK-HAK REPRODUKSI 
Hak-hak reproduksi menurut kesepakatan dalam Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan bertujuan untuk mewujudkan kesehatan bagi individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani, meliputi : 
  1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi. 
  2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
  3. Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi. 
  4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan. 
  5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak.  
  6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya.
  7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.  
  8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
  9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya. 
  10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga.  
  11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.  
  12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. 
Menurut BKKBN 2000, kebijakan teknis operasional di Indonesia, untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi : 

1. Promosi hak-hak reproduksi 
Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan dan kebijakan yang saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung hak-hak reproduksi dengan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya masyarakat. Pelaksanaan upaya pemenuhan hak reproduksi memerlukan dukungan secara politik, dan legislatif sehingga bisa tercipta undang-undang hak reproduksi yang memuat aspek pelanggaran hak-hak reproduksi. 

2. Advokasi hak-hak reproduksi 
Advokasi dimaksudkan agar mendapatkan komitmen dari para tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM dan swasta. Dukungan swasta dan LSM sangat dibutuhkan karena ruang gerak pemerintah lebih terbatas. Dukungan para tokoh sangat membantu memperlancar terciptanya pemenuhan hak-hak reproduksi. LSM yang memperjuangkan hak-hak reproduksi sangat penting artinya untuk terwujudnya pemenuhan hak-hak reproduksi. 

3. KIE hak-hak reproduksi 
Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak reproduksi sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya. 

4. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi 
Indikator terpenuhinya atau tidak terpenuhinya hak reproduksi digambarkan dalam derajat kesehatan reproduksi masyarakat yang ditunjukkan dengan beberapa komponen berikut. 
  1. Angka kematian ibu/AKI (makin tinggi AKI semakin rendah derajat kesehatan reproduksi  
  2. Angka kematian bayi/AKB (makin tinggi AKB makin rendah derajat kesehatan reproduksi  
  3. Angka cakupan pelayanan KB dan patisipasi laki-laki dalam keluarga berencana (makin rendah angka cakupan pelayanan KB, makin rendah kesehatan reproduksi)  
  4. Jumlah ibu hamil dengan 4T terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak anak (makin tinggi jumlah ibu hamil dengan 4T, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)  
  5. Jumlah perempuan atau ibu hamil dengan masalah kesehatan terutama anemia dan kurang energi kronis (semakin tinggi tingkat anemia dan energi kronis, semakin rendah derajat kesehatan reproduksi) 
  6. Perlindungan bagi perempuan terhadap penularan penyakit menular seksual/PMS (makin rendah perlindungan bagi perempuan, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)  
  7. Pemahaman laki-laki terhadap upaya pencegahan dan penularan PMS (makin rendah pemahaman PMS pada laki-laki makin rendah derajat kesehatan reproduksi)  
Sumber:
Kumalasari, Intan. 2012. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta Selatan : Salemba Medika. 
Pinem, Saroha. 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta : Tran Info Media. 
Widyastuti, Yani dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitra Maya.

Readmore »»

Rabu, 22 Oktober 2014

ASUHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA (KESEHATAN REPRODUKSI)


Materi kuliah DIV Kebidanan 
Mata Kuliah : Kesehatan Reproduksi
Pertemuan    : I (Satu)

ASUHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA 

Pendahuluan 
  1. Empat dari lima remaja tinggal di negara berkembang 
  2. Penyebab utama kematian perempuan berumur 15-19 th adalah komplikasi kehamilan, persalinan, dan komplikasi keguguran 
  3. Penderita IMS yang paling tinggi adalah penduduk muda usia 15-24 tahun, termasuk HIV. 
  4. 1/3 – 2/3 korban perkosaan di seluruh dunia berumur antara 15 tahun atau kurang.  Kehamilan di usia remaja meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas yg lebih besar dibanding wanita berusia diatas 20 tahun 
  5. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehamilan di usia remaja disebabkan terutama karena kurangnya informasi yang didapat remaja mengenai kesehatan reproduksi 
Defenisi Remaja 
  1. Masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. 
  2.  Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa 
  3. Jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja 
Perubahan fisik selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap : 1. Perubahan Eksternal 
Perubahan yang terjadi dan dapat dilihat pada fisik luar anak. 
Perubahan tersebut ialah : 
1. Tinggi Badan. 
2. Berat Badan 
3. Proporsi Tubuh 
4. Organ Seks, Ciri – ciri Seks Sekunder 

2. Perubahan Internal: 
1. Sistem Pencernaan 
2. Sistem Peredaran Darah 
3. Sistem Pernafasan 
4. Sistem Endokrin 
5. Jaringan Tubuh 

3. Perubahan kejiwaan 
Proses perubahan kejiwaan berlangsung lambat yang meliputi: 
  1. Perubahan emosi: sensitif (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa), Agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh, sehingga misalnya mudah berkelahi. 
  2. Perkembangan intelegensia 
Perubahan ini dapat membingungkan remaja ↔Perlu perhatian, bimbingan dan dukungan lingkungan sekitar ↔ Agar tumbuh & berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat jasmani, mental & psikososial. 

Masa remaja mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelumnya : 
Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (1990), antara lain : 
  1. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. 
  2. Masa remaja sebagai periode pelatihan. 
  3. Masa remaja sebagai periode perubahan
  4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat. 
  5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. 
  6. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. 
Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja 
Suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural. 

Pengetahuan dasar apa yang perlu diberikan kepada remaja:
  1. Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  2. Usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya 
  3. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
  4. Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
  5. Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
  6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif 
  8. Hak-hak reproduksi 
  9. Menjaga kesehatan alat-alat reproduksi 
Strategi kunci untuk menjangkau dan melayani generasi muda : 
  1. Melakukan pengembangan layanan-layanan yang ramah bagi generasi muda; 
  2. Melibatkan generasi muda dalam perancangan, pelaksaan, dan evaluasi program; 
  3. Membentuk pelatihan bagi penyedia layanan (provider) untuk dapat melayani kebutuhan dan memperhatikan kekhawatiran-kekhawatiran khusus para remaja; 
  4. Mendorong upaya-upaya advokasi masyarakat untuk mendukung perkembangan generasi muda dan mendorong munculnya perilaku kesehatan remaja yang positif; 
  5. Membangun keterampilan generasi muda agar dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka, 
Program kesehatan reproduksi remaja mulai menjadi perhatian pada beberapa tahun terakhir ini karena beberapa alasan: 
  1. Ancaman HIV/AIDS menyebabkan perilaku seksual dan kesehatan reproduksi remaja muncul ke permukaan. Diperkirakan 20-25% dari semua infeksi HIV di dunia terjadi pada remaja. 
  2. Jumlah kelahiran pada remaja meningkat karena pertumbuhan populasi remaja. 
  3. Pengetahuan dan praktik pada tahap remaja akan menjadi dasar perilaku yang sehat pada tahapan selanjutnya dalam kehidupan. 
  4. Kelompok populasi remaja sangat besar; saat ini lebih dari separuh populasi dunia berusia di bawah 25 tahun dan 29% berusia antara 10-25 tahun. 
Masalah-Masalah kunci dalam Kesehatan Remaja dan peran bidan:
  1. Melakukan advokasi untuk memperoleh dukungan masyarakat terhadap kesehatan reproduksi remaja. 
  2. Memberikan informasi dan pelayanan untuk para remaja 
  3. Pelayanan klinik yang ramah bagi remaja 
  4. Kontrasepsi bagi remaja 
  5. HIV dan PMS di kalangan Remaja 
  6. Kehamilan dini dan kehamilan yang tidak diinginkan 
  7. Pendidikan seks berbasis sekolah 
  8. Masalah Gender 
Tugas Kelompok
Kasus 1 : 
Seorang mahasiswi hamil 2 bulan, ingin menggugurkan kandungan. Sudah minum jamu 20 butir yang dibelikan oleh sang pacar, tapi janin tidak gugur. 
Diskusi 
- Faktor apa saja yang menyebabkan mahasiswa tersebut menggugurkan kandungan? 
- Sebagai Bidan, Apa yang anda sarankan kepada mahasiswa tersebut.

 Febrina Oktavinola Kaban Readmore »»

Selasa, 21 Oktober 2014

PENDEKATAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI DALAM PELAYANAN KEBIDANAN (KONSEP KEBIDANAN)


Materi kuliah DIV Kebidanan 
Mata Kuliah : Konsep Kebidanan 
Pertemuan    : IV (Empat)

I. ANTROPOLOGI
 
DEFENISI ANTROPOLOGI
Antropologi Antropos = manusia 
Logos = ilmu 
  1. Jadi Antropologi adalah: Ilmu/studi/kajian tentang manusia. Studi aspek fisik, budaya, dan perilaku manusia untuk mendapat pengertian tentang keragaman manusia.  
  2. Suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang mahluk manusia dengan mempelajari aneka bentuk fisik, kepribadian,masyarakat, serta kebudayaannya ( Aryono Suyono,1985 )
  3. Ilmu yang mempelajari manusia dari sudut cara berfikir dan pola perilaku.(I Gede Wiranata,2002)
  4. Koentjaraningrat,1990 Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar
  5. Antropologi memadukan secara integratif tinjauan biologi dan tinjauan sosio-budaya terhadap peri-kehidupan antropos Antropologi melakukan kajian obyek studinya (manusia) secara menyeluruh, yaitu pada semua manusia di mana pun dan kapan pun juga. 
CABANG-CABANG ANTROPOLOGI:
1. ANTROPOLOGI FISIK/BIOLOGI/RAGAWI 
Studi sistematis tentang makhluk manusia sebagai organisme biologis 
A. PALEOANTROPOLOGI: 
Mempelajari asal-usul dan perkembangan manusia secara biologis 
B. SOMATOLOGI: 
Mempelajari sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya 

2. ANTROPOLOGI BUDAYA: 
A. ETNOLINGUISTIK: 
Mempelajari sejarah asal, perkembangan dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia B. PREHISTORI/PRA-SEJARAH: 
Mempelajari sejarah perkembangan, penyebaran dan terjadinya aneka Warna kebudayaan manusia sebelum mengenal tulisan 
C. ETNOLOGI: 
Mempelajari kebudayaan-kebudayaan Dalam kehidupan masyarakat dari Sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar di dunia. 

KESEHATAN 
Undang-undang Kesehatan no.23 Tahun 1992 (mengacu batasan WHO): Kesehatan adalah keadaan sehat sejahtera badan,jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. 

ANTHROPOLOGI KESEHATAN 
  1. Hasan &Prasad, 1959. Adalah cabang ilmu mengenai manusia yang mempelajari aspek2 biologi dan kebudayaan manusia dari titik tolak pandangan untuk memahami kedokteran, aspek sosial kedokteran dan masalah-masalah kes 
  2. Fabrega , 1972. Anthropologi Kesehatan : 1.menjelaskan berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan didalam atau mempengaruhi cara saat individu dan kelompok terkena oleh atau berespon terhadap sakit dan penyakit. 2. Mempelajari masalah –masalah ini dengan penekanan terhadap pola-pola tingkah laku.
  3. Koentjaraningrat (1990). Antropologi kesehatan membicarakan masalah konsep sakit, sehat, pengobatan tradisional, serta kebiasaan atau perilaku dan pantangan suatu kelompok masyarakat terhadap makanan tertentu. 

ANTROPOLOGI KESEHATAN 
mempelajari gejala : Biobudaya → aspek biologis dan sosiobudaya → tingkah laku manusia
Interaksi kesehatan dan penyakit dari berbagai segi terutama terkait dengan budaya sumber akar 

Ranah Antropologi Kesehatan 
  • Para antropolog kesehatan pada masa kini (khususnya di Amerika) bekerja di fakultas-fakultas kedokteran, sekolah perawat, di bidang kesehatan masya-rakat, di rumahsakit-rumahsakit dan depertemen-departemen kesehatan, serta di jurusan-jurusan antropologi pada universitas umum.
  • Mereka melakukan penelitian dalam topik-topik seperti manusia, anatomi, pediatri, epidemiologi, kesehatan jiwa, penyalahguna- an obat, definisi mengenai sehat dan penya-kit, latihan petugas kesehatan, birokasi medis, pengaturan dan pelaksanaan rumah-sakit, hubungan dokter-pasien, dan proses mem-perkenalkan sistem kesehatan ilmiah kepada masyarakat-masyarakat yang semula hanya mengenal sistem kesehatan tradisional. 
Pendekatan Antropologi dalam Pelayanan Kebidanan 
Pelayanan Kebidanan yang menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat dengan menggunakan pendekatan ilmu antropologi. 

SEJARAH ANTROPOLOGI : (Koentjaraningrat 1990) 
1. Fase Pertama (abad 15-18): 
  • Akhir abad 15 orang Eropa mulai menjelajah dan mendatangi suku-suku bangsa di benua Afrika, Asia, dan Amerika. 
  • Penjelajahan itu menghasilkan kisah-kisah perjalanan dan laporan, yg.berupa tulisan para musafir, pelaut, pendeta, penerjemah, dan pegawai kolonial.
  • Kisah & laporan tsb. menarik perhatian orang Eropa krn. perbedaan adat, susunan masy., dan ciri-ciri fisiknya. Bahan pengetahuan ini merupakan bahan etnografi, yg. umumnya tidak teliti, kabur, dan hanya mendeskripsikan hal-hal yg. aneh saja. 
  • Akhir abad 18, bahan etnografi yg. “aneh” tsb. menarik perhatian ilmuwan Eropa, shg. ada usaha mengintegrasikan bahan-bahan etnografi di seluruh dunia menjadi satu. 
2. Fase Kedua (Pertengahan abad 19) 
Mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapatkan suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.Timbul karangan yang menyusun bahan etnografi berdasar cara berfikir evolusi dan difusi 

3. Fase Ketiga (Permulaan Abad 20) 
Mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks Berkaitan dengan kemantapan kekuasaan negara-negara penjajah eropa 

4. Fase Keempat (Sesusah sekitar tahun 1930) 
Ada 2 perubahan penting: 
A. Timbul antipati terhadap kolonialisme 
B. Makin hilangnya bangsa-bangsa primitive 
Antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, sehingga mengembangkan lapangan penelitian baru. 

PENGERTIAN SOSIOLOGI  
♠ Sosiologi bahasa latin Socius kawan/teman. 
♠ Logos= ilmu pengetahuan. 
♠ Ilmu Sosiologi =  ilmu pengetahuan tentang masyarakat. 
♠ Masyarakat merupakan sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. 
♠ Sosiologi mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, & perilaku sosial manusia dgn mengamati perilaku kelompok yg dibangunnya. 
♠ Kelompok mencakup keluarga, suku, bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi dan sosial 

PENCETUS SOSIOLOGI sbg ILMU SOSIAL 
♠ August Comte thn 1842. Comte di kenal sbg BAPAK SOSIOLOGI. 

Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. 

PERKEMBANGAN ILMU SOSIOLOGI 
♠ "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya: 
  • Tahap Teologis adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia. 
  • Tahap Metafisis pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam. 
  • Tahap Positif adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
DEFENISI SOSIOLOGI DARI BERBAGAI TOKOH
  1. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf. Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. 
  2. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. 
  3. Max Weber. Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. 
  4. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi. Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. 
  5. Paul B. Horton. Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada ke hidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut. 
  6. Soejono Soekanto. Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan ber-usaha untuk mendapatkan po- la-pola umum kehidupan masyarakat.
  7. William Kornblum. Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi. 
  8. Allan Jhonson. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut 
POKOK BAHASAN SOSIOLOGI 
  • Fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. 
  • Tindakan sosial. Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. 
  • Khayalan sosiologis. Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia.
  • Realitas sosial. Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. 
OBJEK SOSIOLOGI
Masyarakat yang berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. 
Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. 

TOKOH DAN DEFINISI MASYARAKAT 
  1. Maclver dan Page. Masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat.
  2. Ralph Linton. Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas batas yang dirumuskan dengan jelas  
  3. Selo Soemardjan. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
  4. Emile Durkheim. Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
  5. Karl Marx. Masyarakat adalah suatu struktur yang mengalami ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.
  6. M.J. Heskovits. Masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti suatu cara hidup tertentu.  
  7. J.L Gillin dan J.P. Gillin. Masyarakat adalah kelompok yang tersebar dengan perasaan dan persatuan yang sama 
MASYARAKAT 
♠ Proses Terbentuknya Masyarakat 
Masyarakat terbentuk ketika sekumpulan orang mendiami suatu wilayah bersama dan menjalin pergaulan sosial sehingga menghasilkan suatu sistem nilai, sistem sosial, dan kebudayaannya. 
♠ Naluri sosial 
Manusia mempunyai naluri untuk berhubungan dengan sesamanya. Hubungan-yang berkesinambungan ini menghasilkan pola-pola interaksi sosial. 
♠ Sistem nilai sosial 
Nilai sosial adalah hal-hal, sesuatu, unsur-unsur material maupun non material yang mengandung ukuran (nilai) yang dianggap baik, penting, berguna dalam masyarakat. Sistem nilai sosial adalah nilai-nilai tertentu yang merupakan suatu kesatuan untuk suatu kepentingan atau kegiatan. 
Contoh: Sistem nilai perkawinan didalamnya terdapat nilai cinta kasih, nilai pengorbanan, nilai saling menyesuaikan, lembaga perkawinan, nilai kekerabatan dan sebagainya. 
♠ Kebudayaan 
Kebudayaan adalah hasil buah budi manusia, didalam masyarakat terdapat kebudayaan, karena masyarakatlah pembentuk kebudayaan. 

Kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat agar dapat terus hidup: 
  1. Adanya populasi dan populasi replacement  
  2. Informasi  
  3. Energi  
  4. Materi  
  5. Sistem komunikasi
  6.  Sistem produksi  
  7. Sistem distribusi  
  8. Sistem organisasi sosial  
  9. Sistem pengendalian sosial  
  10. Perlindungan masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa dan harta bendanya. 
KOMPONEN-KOMPONEN DASAR SUATU MASYARAKAT
  • Populasi → warga-warga suatu masyarakat yang dilihat dari setiap sudut pandangan kolektif. 
  • Kebudayaan Hasil karya, cipta dan rasa dari kehidupan bersama yang mencakup : - sistem lambang-lambang - informasi
  • Hasil-hasil kebudayaan material Organisasi sosial → jaringan hubungan antara warga-warga masyarakat yang bersangkutan, yang antara lain mencakup : - warga masyarakat secara individual - peranan-peranan - kelompok-kelompok sosial - kelas-kelas social.   
Febrina Oktavinola Kaban
Readmore »»

Home

Yang lagi baca..

Populer

Friends..

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez