Tentang Saya

Foto Saya
Bidan Febrina Oktavinola Kaban, SST.,M.Keb. Alumni S2 Kebidanan Universitas Padjadjaran Bandung. Bekerja sebagai staf pengajar di Prodi DIV Kebidanan F.Kep Universitas Sumatera Utara dan Bidan Praktek Mandiri. email: bidanshop2013@gmail.com, Pin BB: 75C86221, hp: 081396847635.

Senin, 18 Mei 2015

CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (4)


CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (4) 
Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Menyusui (4) 

1. Seorang ibu, umur 26 tahun datang ke bidan dengan keluhan: panas dan pusing sudah 2 hari yang lalu. Ibu habis melahirkan anak yang ke dua 6 hari yang lalu di bidan dengan jahitan perineum yang terasa nyeri. Keadaan bayi ibu dalam keadaan sehat. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD 110/70 mmhg, suhu 39⁰C. RR 28x/I, HB 11gr% 

Apakah keadaan yang dialami ibu tersebut? 
a. Stress puerperium 
b. Infeksi puerperium 
c. Gejala puerperium 
d. Proses puerperium 
e. Adaptasi puerperium 

2. Seorang ibu, 28 tahun, post partum 8 jam yang lalu, mengeluh: mules dan mengeluarkan darah pervaginam sedikit, ASI belum keluar, ibu merasa cemas dengan keadaannya. Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya kelainan pada payudara ibu. 

Apakah diagnosis dari kasus di atas 
a. Ibu post partum normal 
b. Ibu post partum dengan sub involusio c. Ibu post partum dengan bendungan ASI 
d. Ibu post partum dengan gangguan psikosis 
e. Ibu post partum dengan depresi 

3. Seorang ibu, usia 25 tahun, melahirkan normal 6 jam yang lalu di BPM. Berat badan bayi 3000 gram, saat ini mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK dan masih pasif. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 110/70 mmhg, nadi 96x/i, suhu 37⁰C, RR: 24x/i 

Keluhan perut mules yang dialami oleh ibu disebabkan oleh? 
a. Kontraksi servik 
b. Konraksi istmus 
c. Kontraksi uterus 
d. Kontraksi salping 
e. Kontraksi endometrium 

4. Seorang ibu, umur 21 tahun datang ke klinik, mengeluh badannya demam 2 hari yang lalu. Dari anamnesa didapatkan: Ibu melahirkan anak pertamanya sudah satu minggu, tidak pernah abortus, hasil pemeriksaan fisik, TD: 110/70 mmhg, nadi 90x/i, RR 24x/I, suhu 38,5⁰C, luka jahitan perineum merah dan belum kering. 

Diagnosa apakah yang tepat pada ibu di atas? 
a. Ibu post partum hari ke 7 dengan demam nifas 
b. Ibu post partum hari ke 7 dengan sub involusio 
c. Ibu post partum hari ke 7 dengan demam resorpsi 
d. Ibu post partum hari ke 7 dengan perdarahan sekunder 
e. Ibu post partum hari ke 7 dengan infeksi puerperalis 

5. Seorang ibu, umur 23 tahun, mengatakan bahwa 6 jam yang lalu melahirkan anak pertama normal dengan jenis kelamin perempuan dengan berat 2800gram. Saat ini mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK, terlihat tidur karena lelah dan masih pasif. Hasil pemeriksaan: TTV normal, lochia berisi darah segar, sisa selaput ketuban. 

Apakah periode adaptasi psikososial ibu tersebut yang terlihat tidur karena lelah dan masih pasif tersebut? 
a. Taking in 
b. Taking on 
c. Letting go 
d. Taking hold 
e. Letting hold 

6. Seorang ibu, umur 25 tahun, melahirkan 6 minggu yang lalu. Ibu bekerja sebagai buruh dari pagi sampai sore. Ibu mengatakan ingin memberikan ASI eksklusif pada bayinya dan menjadi akseptor KB pil. 

Apakah tujuan kunjungan ulang pada ibu tersebut? 
a. Menilai TFU 
b. Menilai TTV 
c. Penkes tentang KB 
d. Menilai perdarahan 
e. Penkes tentang nutrisi 

7. Seorang ibu, umur 25 tahun, post partum 2 hari, saat ini merasa belum dapat merawat bayinya dan merasa tidak mampu dalam merawat bayinya dan merasa tidak mampu dalam merawat bayi. 

Fase apakah yang dialami oleh ibu pada masa nifas ini? 
a. Taking in 
b. Letting go 
c. Letting in 
d. Taking hold 
e. Letting hold 

8. Seorang ibu, umur 25 tahun, post partum hari ke-2, perdarahan sebanyak ± 300cc, laserasi jalan lahir pada mukosa dan kulit perineum. Hasil pemeriksaan secara umum dalam batas normal. 

Apakah rencana pemeriksaan yang dilakukan pada ibu? 
a. TTV, TFU, Perdarahan pervaginam 
b. TFU, Kontraksi Uterus, Perdarahan Pervaginam 
c. TFU, Kontraksi Uterus, Perdarahan Pervaginam 
d. TFU, Perdarahan Pervaginam, Perineum, Kandung Kemih 
e. TFU, Kontraksi Uterus, Perdarahan Pervaginam, Kandung Kemih 

9. Seorang ibu, usia 31 tahun, post partum hari ke-2, dengan persalian spontan, namun bayi meninggal karena gagal nafas. Saat ini payudara terlihat membesar, dan teraba tegang, kemerahan dan nyeri berdenyut. Ibu masih mampu berkomunikasi dengan baik dan kooperatif. 

Apakah diagnosa yang tepat untuk ibu? 
a. Ibu post partum dengan mastitis 
b. Ibu post partum dengan post partum blues 
c. Ibu post partum dengan infeksi puerperalis 
d. Ibu post partum dengan demam 
e. Ibu post partum dengan bendungan payudara 

10. Seorang ibu, usia 22 tahun, melahirkan anak pertama 2 jam yang lalu di BPM. Ibu mengeluh mules-mules. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal, ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 

Proses apakah mules-mules yang dikeluhkan ibu pada kasus tersebut? 
a. Proses involusio 
b. Proses laktasi 
c. Proses sub involusio 
d. Proses dari jalan lahir 
e. Proses dari robek jalan lahir 

Jawaban 
1. B, 2. A, 3. C, 4. E, 5. A, 6. C, 7. D, 8. B, 9. E, 10. A
Readmore »»

CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (3)


CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (3) 
Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Menyusui (3) 

1. Seorang ibu, usia 28 tahun, melahirkan normal 4 hari yang lalu datang ke BPM mengeluh payudara terasa berat, agak keras, dan sedikit nyeri jika disentuh, pemberian ASI pada bayinya diajari oleh mertuanya. Hasil pemeriksaan: TD: 110/70mmhg, Suhu: 37,5⁰ C, RR: 20x/I, Pols: 82x/I, tampak putting susu teregang, payudara keras dan bengkak. 

Apakah diagnosis dari kasus di atas? 
a. Postpartum infeksi nifas 
b. Postpartum 4 hari normal 
c. Postpartum dengan mastitis 
d. Postpartum abses payudara 
e. Postpartum bendungan payudara 

2. Seorang ibu, usia 25 tahun melahirkan anak pertama 5 jam yang lalu di BPM, mengatakan khawatir ASI tidak cukup untuk kebutuhan bayinya, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal, keadaan umum baik. 

Apakah konseling yang paling tepat pada ibu tersebut? 
a. Konseling tentang keadaan ibu 
b. Konseling tentang keadaan bayi 
c. Konseling tentang pemberuan ASI awal 
d. Konseling tentang pemberian susu formula 
e. Konseling tentang pemberian makanan tambahan 

3. Seorang ibu, usia 25 tahun, melahirkan 10 hari yang lalu datang ke BPM mengeluh payudara bengkak, warna kulit merah mengkilap, nyeri tekan, demam sudah 3 hari. Hasil pemeriksaan: TD:110/70 mmhg, pernapasan 22x/i, nadi 90x/i, suhu 38⁰C, payudara tampak merah dan keras, uterus tidak teraba, pengeluaran pervaginam lochea serosa. 

Apakah diagnosis kasus di atas? 
a. Mastitis 
b. Infeksi nifas 
c. Bendungan ASI 
d. Abses payudara 
e. Sepsis puerperalis 

4. Seorang perempuan usia 25 tahun, telah melahirkan anak pertamanya 7 hari yang lalu ditolong bidan di rumah. Bidan melakukan kunjungan nifas, ibu mengeluh badannya capek karena mengurusi bayi dan pekerjaan rumah. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, ASI keluar lancar dan bayi menyusu dengan baik. 

Apakah tindakan yang paling tepat pada kasus di atas? 
a. Anjurkan keluarga untuk member dukungan pada ibu 
b. Mengajarkan ibu cara merawat bayi 
c. Dekatkan ibu dengan bayinya 
d. Memberikan dukungan pada ibu 
e. Rujuk ke dokter 

5. Seorang perempuan usia 23 tahun telah melahirkan anak pertamanya 1 hari yang lalu. Ibu merasa letih, gelisah serta tidak nyaman jika dekat dengan bayinya. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. 

Apakah tindakan yang paling tepat pada kasus di atas? 
a. Mengajak keluarga untuk merawat ibu dan bayinya 
b. Mengajarkan ibu cara merawat bayi 
c. Dekatkan ibu dengan bayinya 
d. Memberi dukungan pada ibu 
e. Rujuk ke dokter 

6. Seorang ibu, usia 27 tahun, melahirkan anak pertama 2 jam yang lalu di BPM. Ibu mengeluh mules-mules. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal, ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 

Proses apakah mules-mules yang dikeluhkan ibu pada kasus tersebut? 
a. Proses involusio 
b. Proses laktasi 
c. Proses sub involusio 
d. Proses dari jalan lahir 
e. Proses dari robek jalan lahir 

7. Seorang perempuan, usia 27 tahun, post partum 4 jam yang lalu di BPM. Ibu mengeluh mules-mules, lelah. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal. ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 

Apakah asuhan kebidanan yang paling tepat pada ibu tersebut? 
a. Menganjurkan makan makanan yang bergizi 
b. Menganjurkan untuk memberi ASI 
c. Mencegah terjadinya perdarahan 
d. Menganjurkan istirahat cukup 
e. Menganjurkan untuk ber KB 

8. Seorang ibu usia 27 tahun, melahirkan anak pertama 2 jam yang lalu di BPM. Ibu mengeluh mules-mules. Hasil pemeriksaan: tanda-tanda vital normal, ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 

Periode laktasi apakah yang dialami ibu pada kasus tersebut? 
a. ASI 
b. ASI matur 
c. ASI transisi 
d. ASI peralihan 
e. ASI kolostrum 

9. Seorang perempuan usia 23 tahun, melahirkan anak pertama 6 jam yang lalu di BPM. Berat bayi 2800 gram. Ibu mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal, TFU 2 jari di bawah pusat, lochea berisi darah segar. 

Berapakah berat uterus normal pada ibu saat ini? 
a. 50 gram 
b. 250 gram 
c. 350 gram 
d. 500 gram 
e. 750 gram

10. Seorang perempuan, usia 21 tahun, melahirkan 1 minggu yang lalu, datang ke BPM mengeluh perut mules dan sulit tidur. Hasil pemeriksaan: TD 130/80 mmhg, nadi 88x/I, RR 24x/I, suhu 39⁰C, ibu menggigil, lochea berbau busuk. 

Apakah asuhan yang tepat dilakukan untuk kasus di atas? 
a. Pemeriksaan pengeluaran pervaginam 
b. Pemeriksaan kandung kemih 
c. Mengkaji riwayat persalinan 
d. Kolaborasi dengan dokter 
e. Memberikan antibiotik

Jawaban 
1.E, 2. C, 3. A, 4. A, 5. A, 6. A, 7. D, 8. E, 9. E, 10. D
Readmore »»

Minggu, 17 Mei 2015

CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (2)



CONTOH SOAL SKENARIO UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (2) 
Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Menyusui (2) 

1. Seorang ibu, umur 24 tahun, datang ke klinik bersalin, dengan keluhan: ibu mengatakan 6 jam yang lalu melahirkan anak pertama secara normal dengan berat bayi 2800gram, saat ini mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK serta masih pasif. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 110/70 mmhg, nadi 90x/menit, suhu 37⁰ C, pernafasan 24x/menit. 

Apakah sebutan untuk keluhan perut mules yang dialami ibu di atas? 
a. Lochia 
b. Involusi 
c. Kontraksi 
d. After pains 
e. Sub involusi 

2. Seorang ibu umur 22 tahun, datang ke RB dengan keluhan: ibu mengatakan sudah 5 hari setelah melahirkan anak pertama, ia belum BAB. Perutnya terasa penuh akibat tidak BAB. Ibu sudah makan sayur-sayuran dan buah-buahan tetapi belum juga BAB, ibu merasa tidak nyaman dengan kondisinya. 

Apakah rencana asuhan yang dianjurkan? 
a. Minum air yang banyak 
b. Sedikit makan 
c. Bergerak aktif 
d. Memberikan obat pencahar 
e. Istirahat total 

3. Seorang ibu umur 30 tahun datang ke klinik Bunda, mengeluh demam. Dari anamnesa diketahui ibu melahirkan anak pertama sudah satu minggu, tidak pernah mengalami riwayat abortus, hasil pemeriksaan TTV, TD 110/70 mmhg, nadi 24x/I, suhu 39⁰C, RR 24x/I, pada pemeriksaan genitalia ditemukan lochea seperti nanah dan berbau busuk. 

Apakah sebutan lochea berbau busuk dan seperti nanah yang dialami ibu tersebut? 
a. Rubra 
b. Alba 
c. Purulenta 
d. Serosa 
e. Sanguinolenta 

4. Seorang ibu, umur 26 tahun datang ke bidan praktek mandiri, mengatakan 3 jam yang lalu melahirkan anak ke dua secara normal dengan berat 3000 gram, saat ini mengeluh lelah, perut mules dan susah tidur. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 110/70 mmhg, nadi 90x/I, suhu 37⁰C, pernafasan 24x/i. 

Apakah penyebab keluhan perut mules yang dialami ibu tersebut? 
a. Kontraksi serviks 
b. Kontraksi istmus 
c. Kontraksi uterus 
d. Kontraksi salping 
e. Kontraksi endometrium 

5. Seorang ibu, umur 23 tahun mengatakan 6 jam yang lalu melahirkan anak pertama secara normal dengan berat 3000 gram, saat ini mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 120/70 mmhg, nadi 90x/I, suhu 37⁰C, pernafasan 24x/i. 

Berapakah tinggi fundus uteri normal ibu saat ini? 
a. Setinggi pusat 
b. 2 jari di bawah pusat 
c. 1 jari di bawah pusat 
d. 2 jari di bawah pusat 
e. Pertengahan pusat dan simfisis 

6. Seorang ibu usia 23 tahun datang ke RB, mengatakan bahwa 2 jam yang lalu melahirkan anak pertama normal denganjenis kelamin perempuan dan BB 2800gram. Saat ini mengeluh lelah, perut mules dan belum BAK, terlihat tidur karena lelah dan masih pasif. Hasil pemeriksaan TTV normal, lochea berisi darah segar,

Berapakah berat uterus setelah plasenta lahir? 
a. 50 gram 
b. 250 gram 
c. 350 gram 
d. 500 gram 
e. 750 gram 

7. Seorang ibu umur 25 tahun, PI A0, melahirkan 6 minggu yang lalu, datang ke bidan praktek mandiri, mengatakan ingin memberikan ASI Eksklusif dan untuk saat ini tidak ingin hamil dulu sebelum usia anak 2 tahun. Ibu tersebut ragu dengan alat kontrasepsi karena takut mengganggu produksi ASI.  

Apakah asuhan yang diberikan pada ibu tersebut? 
a. Menilai tinggi fundus uteri 
b. Menilai tanda-tanda vital 
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang KB 
d. Memberikan pendidikan tentang teknik menyusui 
e. Memberikan pendidikan kesehatan tentang kehamilan 

8. Seorang ibu umur 25 tahun PIA0 2 hari post partum, datang ke klinik dengan keluhan, ibu merasa belum dapat merawat bayinya dan merasa tidak mampu dalam merawat bayinya. 

Pada fase masa nifas apakah ibu tersebut? 
a. Taking in 
b. Letting go 
c. Letting in 
d. Taking hold 
e. Letting hold 

9. Seorang ibu, usia 23 tahun, post partum hari ke-2, datang ke klinik dengan keluhan pusing, mata berkunang-kunang, lemah. Ibu mengatakan bahwa persalinan dilakukan dengan bantuan dukun dan keluar darah banyak. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital, TD: 90/70 mmhg, RR 20x/I, Nadi 85x/I, suhu 36,5⁰ C. Pemeriksaan genitalia ditemukan darah masih mengalir dari laserasi jalan lahir yang tidak dijahit.  

Apakah diagnosis ibu tersebut? 
a. Perdarahan postpartum primer 
b. Perdarahan postpartum sekunder 
c. Anemia 
d. Perdarahan antepartum 
e. Atonia uteri 

10. Seorang ibu, umur 27 tahun, P1A0 melahirkan 4 minggu yang lalu. Ibu mengatakan ingin memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. 

Berapa lamakah waktu pemberikan ASI Eksklusif pada bayi? 
a. 2 bulan 
b. 3 bulan 
c. 4 bulan 
d. 5 bulan 
e. 6 bulan. 

Jawaban: 
1. D, 2. D, 3. C, 4. C, 5. D, 6. E, 7. C, 8. D, 9. B, 10. E
Readmore »»

Jumat, 15 Mei 2015

CONTOH SOAL UNTUK UJI KOMPETENSI BIDAN (1)


Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Menyusui (1) 

1. Seorang ibu, usia 23 tahun, melahirkan 2 jam yang lalu di klinik bidan, mengeluh merasa ada pengeluaran darah dari kemaluan, lemah dan pandangan berkunang-kunang. Hasil pemeriksaan menunjukkan wajah pucat, TD 90/60 mmhg, HR 76 x/I, TFU 1 jari di bawah pusat uterus teraba lembek dan volume perdarahan lebih kurang 200cc. 

Apakah diagnosis pada kasus tersebut? 
a. Atonia uteri 
b. Rupture uteri 
c. Inversion uteri 
d. Retensio plasenta 
e. Kelainan pembekuan darah 

2. Seorang perempuan usia 28 tahun, melahirkan 8 jam yang lalu di RB, mengeluh mules dan mengeluarkan darah pervaginam sedikit, ASI belum keluar, merasa cemas dengan keadaannya. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, tidak ditemukan kelainan pada payudara. 

Apakah diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut? 
a. Ibu post partum normal 
b. Ibu post partum dengan depresi 
c. Ibu post partum dengan sub involusio 
d. Ibu post partum dengan bendungan ASI 
e. Ibu post partum dengan psikosis 

3. Berdasarkan kasus di atas, apakah penatalaksanaan mengatasi keluhan mules pada kasus tersebut? 
a. Berikan analgetik 
b. Susukan bayi sesering mungkin 
c. Rujuk untuk penanganan lebih lanjut 
d. Berikan kompres hangat pada daerah perut 
e. Jelaskan keluhan mules adalah keadaan normal 

4. Seorang perempuan usia 24 tahun melahirkan anak yang ke dua 6 hari yang lalu, datang ke BPM mengeluh pusing sudah 2 hari yang lalu, jahitan perineum yang terasa nyeri. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, terlihat bekas jahitan perineum merah. 

Apakah asuhan yang tepat pada kasus tersebut? 
a. Menilai perdarahan 
b. Memberikan nutrisi 
c. Penkes tentang KB 
d. Berikan kompres air hangat 
e. Berikan parasetamol 3x500 mg 

5. Seorang perempuan usia 23 tahun melahirkan anan pertama BB 2800gr 2 hari yang lalu di BPM, mengeluh lelah, sering mengantuk dan bersifat passif. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal. Lochea berwarna merah. 

Apakah adaptasi psikososial yang dialami ibu pada kasus tersebut? 
a. Taking in 
b. Taking on 
c. Letting go 
d. Taking hold 
e. Letting hold 

6. Seorang perempuan usia 25 tahun melahirkan 2 hari yang lalu di BPM, mengeluh per
ut mules, sulit tidur. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, lochea warna merah. 

Berapakah tinggi fundus uteri yang normal sesuai kasus tersebut? 
a. Tidak teraba 
b. Setinggi pusat 
c. 2 jari di bawah pusat 
d. 2 jari di atas pusat 
e. Pertengahan pusat dan simfisis 

7. Seorang perempuan usia 27 tahun, melahirkan anak pertama di rumah 2 jam yang lalu, mengeluh mules-mules. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital normal, ASI keluar sedikit berwarna kekuningan, lochea berwarna merah, jahitan perineum baik. 

Apakah diagnosis ibu pada kasus tersebut? 
a. Post partum puerpureum dini 
b. Post partum laten puerperium 
c. Post partum puerpurium lanjut 
d. Post partum puerperium tengah 
e. Post partum puerperium intermitten 

8. Seorang perempuan usia 37 tahun melahirkan anak ke 6, 4 jam yang lalu di BPM, mengeluh pusing lemas, 30 menit setelah plasenta lahir lengkap kontraksi uterus lemah. Hasil pemeriksaan TD 90/60 mmhg, Nadi 110x/I, perdarahan 500cc. 

Apakah diagnosis yang tepat pada kasus di atas? 
a. Atonia uteri 
b. Robekan pada perineum 
c. Rupture uteri 
d. Sub involution plasenta 
e. His lemah 

9. Seorang ibu, usia 27 tahun melahirkan 6 jam yang lalu di BPM mengeluh takut duduk dan bangkit dari tempat tidur. Hasil pemeriksaan : TTV dalam batas normal, TFU 2 jari di bawah pusat, pengeluaran darah vagina berwarna merah segar, tampak bekas jahitan luka perineum. 

Lochea apakah yang ditemukan pada kasus tersebut? 
a. Lochea alba 
b. Lochea serosa 
c. Lochea rubra 
d. Lochea purulenta 
e. Lochea sanguilenta 

10. Seorang ibu, usia 37 tahun melahirkan anak ke 6, 4 jam yang lalu di BPM, mengeluh pusing lemas, 30 menit setelah plasenta lahir lengkap, kontraksi uterus lemah. Hasil pemeriksaan TD 90/60 mmhg, nadi 110x/I, perdarahan 500cc. Apakah antisipasi masalah potensial untuk kasus tersebut? 
a. Syok haemoragik 
b. Infeksi puerperalis 
c. Syock neurogenik 
d. Infeksi perineum 
e. Anemia berat. 

Jawaban: 
1.A, 2. A, 3. E, 4. E, 5. A, 6. C, 7. A, 8. A, 9. C, 10. A
Readmore »»

Minggu, 12 April 2015

PERSIAPAN PENGAMBILAN SPESIMEN URINE


A. Pengertian Urine

Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Secara umum urine berwarna kuning. Urine encer warna kuning pucat (kuning jernih), urine kental berwarna kuning pekat, dan urine baru/segar berwarna kuning jernih. Urine yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh.Urine berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. Ph urine berkisar antara 4,8 – 7,5, urine akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein, dan urine akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urine 1,002 – 1,035. Secara kimiawi kandungan zat dalan urine diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolisme lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat,Ca dan Mg), hormon, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb). Volume urine normal per hari adalah 900 – 1400 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. 

B. Tujuan dari pemeriksaan spesimen urine adalah 
  1. Untuk mengetahui adanya kelainan urine secara langsung. Urine akan diambil sebagai spesimen atau sampel laboratorium apabila diperlukan. Beberapa kasus yang memerlukan sampel urine adalah diabetes, proteinuria, dan adanya gangguan ginjal.  
  2. Untuk membantu penegakan dini diagnosa awal. Urine terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urine berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urine dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urine dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. 
C. Faktor yang Mempengaruhi Proses Urinasi 
a. Faktor Internal 
1. Hormon Antideuritik (ADH).    
Hormon antideuritik dikeluarkan oleh kelenjar saraf hipofifis (neuroehipofisis). Pengeluaran hormon ini ditentukan oleh reseptor khusus di dalam otak yang secara terus menerus mengendalikan tekananan osmotik darah (kesetimbangan konsentrasi air dalam darah). Oleh karena itu, hormon ini akan mempengaruhi proses reabsorpsi air pada tubulus kontortus distal, sehingga permeabilitas sel terhadap air akan meningkat. Oleh karena cara bekerja dan pengaruhnya inilah, hormon tersebut disebut sebagai hormon antideuritik. Jika tekanan osmotik darah naik, yaitu pada saat dalam keadaan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh (saat kehausan atau banyak mengeluarkan keringat), konsentrasi air dalam darah akan turun. Akibat dari kondisi tersebut, sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh darah menuju ke ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, juga mengkatkan permeabilitas saluran pengumpul, sehingga memperbesar sel saluran pengumpul. Dengan demikian air akan berdifusi ke luar dari pipa pengumpul, lalu masuk ke dalam darah. Keadaan tersebut akan berusaha memulihkan konsentrasi air dalam darah. Namun akibatnya, urine yang dihasilkan menjadi sedikit dan lebih pekat.    
2. Hormon Insulin Hormon insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pulau langerhans dalam pankreas. Hormon insulin berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes mellitus) memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi. Akibatnya terjadi gangguan reabsorpsi di dalam urine masih terdapat glukosa.
3. Saraf Stimulus pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus afferen. Hal ini menyebabkan aliran darah ke glomerulus menurun dan tekanan darah menurun sehingga filtrasi kurang efektif. Hasilnya urine yang diproduksi meningkat.
4. Tonus otot 
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine. 
5) Usia
Pengeluaran urine usia balita lebih sering karena balita belum bisa mengendalikan rangsangan untuk miksi dan makanan balita lebih banyak berjenis cairan sehingga urine yang dihasilkan lebih banyak sedangkan pengeluaran urine pada lansia lebih sedikit karena setelah usia 40 tahun, jumlah nefron yang berfungsi biasanya menurun kira-kira 10% tiap tahun. 

b. Faktor Eksternal 
1) Zat-zat diuretik 
Misalnya teh, kopi, atau alkohol dapat menghambat reabsorpsi ion Na+.  Akibatnya ADH berkurang sehingga reabsorpsi air terhambat dan volume urine meningkat. 
2) Suhu lingkungan 
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran air kencing pun banyak. 
3) Gejolak emosi dan stress 
Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil. 
4) Jumlah air yang diminum 
Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika meminum banyak air, konsentrasi air dalam darah akan tinggi, dan kosentrasi protein dalam darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang. Selain itu, keadaan seperti ini menyebabkan darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan menyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urine yang dihasilkan akan meningkat dan encer. 
5) Kondisi penyakit 
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus. 
6) Life Style dan aktivitas 
Seorang yang suka berolahraga, urine yang terbentuk akan lebih sedikit dan lebih pekat karena cairan lebih banyak digunakan untuk membentuk energi sehingga cairan yang dikeluarkan lebih banyak dalam bentuk keringat. 

D. Pemeriksaan Urine 
Yang dimaksud dengan pemeriksaan urine rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urine yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urine lengkap adalah pemeriksaan urine rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit. 
1. Pemeriksaan Makroskopik 
Tes makroskopik dilakukan dengan cara visual. Pada tes ini biasanya menggunakan reagen strip yang dicelupkan sebentar ke dalam urine lalu mengamati perubahan warna yang terjadi pada strip dan membandingkannya dengan grafik warna standar. Tes ini bertujuan mengetahui Warna, Kejernihan, bau,Volume pH, berat jenis (BJ), glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, darah, keton, nitrit dan lekosit esterase. 
  1. Volume urine. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urine seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata di daerah tropik volume urine dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urine selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. Bila volume urine selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri, keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urine selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal  
  2. Warna urin. Warna urine ditentukan oleh besarnya dieresis. Makin besar dieresis, makin muda warna urine itu. Biasanya warna urine normal berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna, terutama urochrom dan urobilin. Jika didapat warna abnormal disebabkan oleh zat warna yang dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam jumlah besar. Kemungkinan adanya zat warna abnormal, berupa hasil metabolisme abnormal, tetapi mungkin juga berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan. Beberapa keadaan warna urine mungkin baru berubah setelah dibiarkan  
  3. Berat jenis urine. Pemeriksaan berat jenis urine bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'  
  4. Bau urine. Bau urine normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria.  
  5. pH urine. Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, karena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urine normal berkisar antar 4,5 - 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urine bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urine bersifat basa  
  6. Buih. Buih pada urine normal berwarna putih. Jika urine mudah berbuih, menunjukkan bahwa urine tersebut mengandung protein. Sedangkan jika urine memiliki buih yang berwarna kuning, hal tersebut disebabkan oleh adanya pigmen empedu(bilirubin) dalam urine 
2. Pemeriksaan Mikroskopik 
Tes mikroskopik dilakukan dengan memutar (centrifuge) urine lalu mengamati endapan urine di bawah mikroskop. Tes ini bertujuan untuk mengetahui : 
(1) unsur-unsur organik (sel-sel : eritrosit, lekosit, epitel), silinder, silindroid, benang lendir; 
(2) unsur anorganik (kristal, garam amorf); 
(3) elemen lain (bakteri, sel jamur, parasit Trichomonas sp., spermatozoa).
Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. 
  1. Eritrosit. Dalam keadaan normal, terdapat 0 – 2 sel eritrosit dalam urine. Jumlah eritrosit yang meningkat menggambarkan adanya trauma atau perdarahan pada ginjal dan saluran kemih, infeksi, tumor, batu ginjal.  
  2. Lekosit. Dalam keadaan normal, jumlah lekosit dalam urine adalah 0 – 4 sel. Peningkatan jumlah lekosit menunjukkan adanya peradangan, infeksi atau tumor.  
  3. Epitel. Ini adalah sel yang menyusun permukaan dinding bagian dalam ginjal dan saluran kemih. Sel-sel epitel hampir selalu ada dalam urine, apalagi yang berasal dari kandung kemih (vesica urinary), urethra dan vagina.  
  4. Silinder (cast). Ini adalah mukoprotein yang dinamakan protein Tam Horsfal yang terbentuk di tubulus ginjal. Terdapat beberapa jenis silinder, yaitu : silinder hialin, silinder granuler, silinder eritrosit, silinder lekosit, silinder epitel dan silinder lilin (wax cast). Silinder hialin menunjukkan kepada iritasi atau kelainan yang ringan. Sedangkan silinder-silinder yang lainnya menunjukkan kelainan atau kerusakan yang lebih berat pada tubulus ginjal. 
  5. Kristal. Dalam keadaan fisiologik / normal, garam-garam yang dikeluarkan bersama urine (misal oksalat, asam urat, fosfat, cystin) akan terkristalisasi (mengeras) dan sering tidak dianggap sesuatu yang berarti. Pembentukan kristal atau garam amorf dipengaruhi oleh jenis makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urine (tergantung banyak-sedikitnya minum).Yang perlu diwaspadai jika kristal-kristal tersebut ternyata berpotensi terhadap pembentukan batu ginjal. Batu terbentuk jika konsentrasi garam-garam tersebut melampaui keseimbangan kelarutan. Butir-butir mengendap dalam saluran urine, mengeras dan terbentuk batu. 
  6. Silindroid.  Ini adalah material yang menyerupai silinder. Tidak memiliki arti yang banyak, mungkin sekali berrati adanya radang yang ringan. 
  7. Benang lendir (mucus filaments). Ini didapat pada iritasi permukaan selaput lendir saluran kemih.
  8. Spermatozoa. Bisa ditemukan dalam urine pria atau wanita dan tidak memiliki arti klinik. 
  9. Bakteri.  Bakteri yang dijumpai bersama lekosit yang meningkat menunjukkan adanya infeksi dan dapat diperiksa lebih lanjut dengan pewarnaan Gram atau dengan biakan (kultur) urin untuk identifikasi. Tetapi jika ada bakteri namun sedimen “bersih”, kemungkinan itu merupakan cemaran (kontaminasi) saja. 
  10. Sel jamur . Menunjukkan infeksi oleh jamur (misalnya Candida) atau mungkin hanya cemaran saja.
  11. Trichomonas sp. Ini adalah parasit yang bila dijumpai dalam urin dapat menunjukkan infeksi pada saluran kemih pada laki-laki maupun perempuan. 
3. Pemeriksaan Kimia Urine
Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit.
  1. Pemeriksaan glukosa. Dalam urine dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. 
  2. Benda- benda keton, dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebih dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urine mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan. Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. 
  3. Pemeriksaan bilirubin. Dalam urine berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat. Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urine akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium. 
  4. Pemeriksaan urobilinogen. Dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh. Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi. 
D. Jenis Sampel Urine 
  1. Urine sewaktu / urine acak (random). Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus. 
  2. Urine pagi. Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine. 
  3. Urine tampung 24 jam. Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene. 
D. Wadah Spesimen 
Wadah untuk menampung spesimen urine sebaiknya terbuat dari bahan plastik, tidak mudah pecah, bermulut lebar, dapat menampung 10-15 ml urine dan dapat ditutup dengan rapat. Selain itu juga harus bersih, kering, tidak mengandung bahan yang dapat mengubah komposisi zat-zat yang terdapat dalam urine 

D. Prosedur Pengumpulan Sampel Urine 
Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen, penderita harus diberi penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar. Spesimen urine yang ideal adalah urine pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urine dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan mikroba dari luar uretra agar tidak mencemari spesimen urine. Sebelum dan sesudah pengumpulan urine, pasien harus mencuci tangan dengan sabun sampai bersih dan mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Pasien juga perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung spesimen. Pasien yang tidak bisa berkemih sendiri perlu dibantu orang lain (mis. keluarga atau perawat). Orang-orang tersebut harus diberitahu dulu mengenai cara pengumpulan sampel urin, mereka harus mencuci tangannya sebelum dan sesudah pengumpulan sampel, menampung urine midstream dengan baik. Untuk pasien anak-anak mungkin perlu dipengaruhi/dimaotivasi untuk mengeluarkan urine. Pada pasien bayi dipasang kantung penampung urine pada genitalia. Pada kondisi tertentu, urine kateter juga dapat digunakan. Dalam keadaan khusus, misalnya pasien dalam keadaan koma atau pasien gelisah, diperlukan kateterisasi kandung kemih melalui uretra. Prosedur ini menyebabkan 1 - 2 % risiko infeksi dan menimbulkan trauma uretra dan kandung kemih. Untuk menampung urine dari kateter, lakukan desinfeksi pada bagian selang kateter dengan menggunakan alkohol 70%. Aspirasi urine dengan menggunakan spuit sebanyak 10 – 12 ml. Masukkan urine ke dalam wadah dan tutup rapat. Segera kirim sampel urine ke laboratorium. Untuk mendapatkan informasi mengenai kadar analit dalam urine biasanya diperlukan sampel urine 24 jam. 

Cara pengumpulan urine 24 jam adalah : 
  1. Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urine pagi pertama. Catat tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada periode selanjutnya ditampung. 
  2. Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi feses pada sampel urin wanita. 
  3. Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah, pengumpulan urine dihentikan. 
  4. Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan. 
Cara pengambilan sampel urine clean-catch pada pasien wanita : 
  1. Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. 
  2. Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan 
  3. Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari depan ke belakang 
  4. Bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kasa steril yang lain. 
  5. Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka dan jari tangan jangan menyentuh daerah yang telah dibersihkan. 
  6. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah. 
  7. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium. 
Cara pengambilan urine clean-catch pada pasien pria : 
  1. Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. 
  2. Jika tidak disunat, tarik preputium ke belakang. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah. 
  3. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.

Aspirasi jarum suprapubik transabdominal kandung kemih merupakan cara mendapatkan sampel urine yang paling murni. Pengumpulan urine aspirasi suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh. 
  1. Lakukan desinfeksi kulit di daerah suprapubik dengan Povidone iodine 10% kemudian bersihkan sisa Povidone iodine dengan alkohol 70% 
  2. Aspirasi urine tepat di titik suprapubik dengan menggunakan spuit 
  3.  Diambil urine sebanyak ± 20 ml dengan cara aseptik/suci hama (dilakukan oleh petugas yang berkompenten) 
  4. Masukkan urine ke dalam wadah yang steril dan tutup rapat. 
  5. Segera dikirim ke laboratorium. 
G. Macam-macam Pemeriksaan Sampel Urine
Bahan urine untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Bahan urine dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic puncture=spp), dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). Bahan urine yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan steril. 
  1. Punksi Suprapubik.  Pengambilan urine dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urine langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang penting pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah yang akan ditusuk, anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Bila keadaan asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapapun jumlah koloni yang tumbuh pada biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.  
  2. Kateter Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. Pada cara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin yang diperoleh dari kateter sama dengan hasil biakan urine yang diperoleh dari punksi suprapubik.
  3. Urine Porsi Tengah . Urine porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik pengambilan yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidak nyamanan pada penderita. Akan tetapi resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh menggunakan antiseptik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan kultur false-negative. 
Cara pengambilan dan penampungan urin porsi tengah pada wanita: : 
  • Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai
  • Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan potongan kasa steril yang mengandung sabun. Arah pembersihan dari depan ke belakang. Kemudian buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah. 
  • Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa yang dibasahi dengan air atau salin hangat. Selama pembilasan tetap pisahkan kedua labia dengan 2 jari dan jangan biarkan labia menyentuh muara uretra. Lakukan pembilasan sekali lagi, kemudian keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah. 
  • Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Buang beberapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran urin selanjutnya ke dalam wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau setengah wadah terisi. 
  • Setelah selesai, tutup kembali wadah urine dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah dari urine yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium. 
Cara pengambilan dan penampungan urine porsi tengah pada pria: 
  • Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis dan muara uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan selesai.
  • Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah ujung penis dengan kasa yang dibasahi air sabun. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
  • Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. Ulangi sekali lagi, lalu keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa yang telah dipakai ke dalam tempat sampah.
  • Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih. Buang beberapa mililiter urin yang keluar, kemudian tampung urin yang keluar berikutnya ke dalam wadah steril sampai terisi sepertiga sampai setengahnya.
  • Setelah selesai, tutup kembali wadah urine dengan rapat dan bersihkan dinding luar wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium. 
4. Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey) 
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri dari urin empat porsi yaitu: 
  • Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi uretra. 
  • Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan kondisi buli-buli. 
  • Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat. 
  • Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat. 
5. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK yaitu leukosit dan bakteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna, berat jenis dan pH, konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap dilakukan. 
6. Pemeriksaan Dipstik 
Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan leukosit dan bakteri di urin dengan cepat. Untuk mengetahui leukosituri, dipstik akan bereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat dalam granul primer netrofil). Sedangkan untuk mengetahui bakteri, dipstik akan bereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasil perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada bakteri). Penentuan nitrit sering memberikan hasil false-negative karena tidak semua bakteri patogen memiliki kemampuan mengubah nitrat atau kadar nitrat dalam urin menurun akibat obat diuretik. Kedua pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas 60-80% dan spesifisitas 70 – 98%. Sedangkan nilai positive predictive value kurang dari 80% dan negative predictive value mencapai 95%. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik urine dan kultur urine. Pemeriksaan dipstik digunakan pada kasus skrining follow up. Apabila kedua hasil menunjukkan hasil negatif, maka urine tidak perlu dilakukan kultur. 

7. Pemeriksaan Mikroskopik Urine 
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan bakteri dalam urin. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah &; 10 / lapang pandang besar (LPB). Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur. Pemeriksaan langsung kuman patogen dalam urin sangat tergantung kepada pemeriksa. Apabila ditemukan satu atau lebih kuman pada pemeriksan langsung, perlu dilakukan pemeriksaan kultur. 
8. Pemeriksaan Kultur Urine
Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur urin masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila jumlah koloni yang tumbuh > 105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh merupakan penyebab ISK. Sedangkan bila hanya tumbuh koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml urin, maka bakteri yang tumbuh kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra. Jika diperoleh jumlah koloni antara 103 - 105 koloni / ml urin, kemungkinan kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan biakan ulang dengan bahan urin yang baru. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah kuman adalah kondisi hidrasi pasien, frekuensi berkemih dan pemberian antibiotika sebelumnya.1,5 Perlu diperhatikan pula banyaknya jenis bakteri yang tumbuh. Bila > 3 jenis bakteri yang terisolasi, maka kemungkinan besar bahan urin yang diperiksa telah terkontaminasi.  

Sumber
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC 
wilmar musram, 2000, Praktikum Urine, Penuntun Praktikum Biokimia, Widya Medika, Jakarta. Gandasubrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat. 2004 Readmore »»

ETIKA BIDAN BAGUS SEKALI


Satu lagi video yang perlu di tonton, tentang etika bidan seharusnya....cek it out...


Readmore »»

Kamis, 09 April 2015

ETIKA BIDAN CAKEP


Readmore »»

Yang lagi baca..

Poling

Home

Populer

Friends..

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez